A Journey to Find the Deen of Islam

“Jangan merasa Allah membutuhkan kita untuk hijrah. Kita mengaji atau tidak, tidak ada pengaruhnya untuk Allah. Kita hanya satu dari 7 miliar manusia. Kalau kita tidak menngaji dan tidak hijrah, masih ada 6.999 miliar ummat lainnya. Kita yang butuh Allah, jadi teruslah berusaha dan mengejarNya. Islam bukan sekedar syahadat, sholat, puasa, zakat, haji. Lebih dari itu,  kita harus terus meng-upgrade tsaqofah islamiyah kita.” –Kak Yasmin, 2018.

Source: pinterest by haf Tima
Source: Pinterest by haf Tima

Tulisan ini merupakan sebuah kisah yang dibagikan oleh seorang mualaf bernama Kak Yasmin, yang dari kecil hidup dalam lingkungan keluarga katholik dan sangat asing dengan agama islam. Di usia 6 tahun, keluarganya pindah dari Semarang ke Tangerang, mengikuti berpindahnya tempat kerja sang ayah. Ketika memasuki lingkungan sekolah, barulah beliau mengetahui agama islam, hingga ketika memasuki SMP umum beliau memiliki banyak teman muslim. Dari sanalah beliau mulai memperhatikan keseharian teman-temannya yang melakukan sholat sebanyak 5 kali sehari, mengaji, termasuk berwudhu setiap akan menjalankan ibadah. Beliau sempat bertanya-tanya tentang seringnya umat islam beribadah setiap harinya, sedangkan beliau sendiri –yang pada saat itu beragama katholik, untuk melaksanakan ibadah satu atau dua kali seminggu saja masih merasakan kemalasan luar biasa. Dari pengalaman itu, mulai muncul rasa keingintahuan beliau terhadap islam. Namun belum begitu banyak informasi yang beliau dapatkan dari teman-temannya.

cd195de7df666c626a94d00052e3477c
Source: Pinterest by UltraUpdates

Beliau merasa kurang mengenal agamanya sendiri sampai mebuatnya ingin tau agama orang lain, hingga akhirnya ketika memasuki SMA beliau memilih masuk yayasan nasrani agar lebih mengenal dan memahami agamanya sendiri. Di sana beliau aktif di kegiatan gereja, mengikuti perkumpulan muda mudi gereja, retret, hingga melibatkan diri sebagai panitia pada setiap perayaan. Tetapi beliau merasa bahwa hal itu hanya sebatas rutinitas tanpa adanya point goals. Untuk apa agamanya selama ini? Kalau untuk mengatur kehidupan, sepertinya selama ini aturannya tidak sesuai dengan Alkitab. Begitu lulus SMA, beliau memutuskan untuk membaca Alkitab seluruhnya, mengingat dalam misa biasanya hanya ayat-ayat tertentu saja yang di angkat. Dari sana, banyak ayat yang membuat beliau berfikir dan ragu dengan agamanya sendiri. Setelah selesai membaca Alkitab, beliau menemukan beberapa fakta yang membuatnya tertarik untuk lebih mengenal islam, hingga membuat beliau melakukan dialog dengan beberapa orang yang bisa saling membandingkan isi Alkitab dan Al Quran. Begitu beliau sudah yakin dan tidak bisa menutup mata dan telinga tentang kebenaran islam, akhirnya beliau memutuskan untuk mengikrarkan kalimat syahadat pada tahun 2013.

Bagi Kak Yasmin, hidup ini pasti ada tujuannya. Dari mana kita berasal? Untuk apa kita diciptakan? Kemana kita setelah mati?  Di dalam Alkitab, ada berbagai macam aturan tetapi tidak dilakukan oleh umatnya. Sedangkan apabila kita ingin selamat sampai ke surga, maka kita harus patuh kepada Allah Sang Pencipta. Ada juga konsep ketuhanan trinitas menurutnya tidak relevan. Kenapa Tuhan harus ke bumi, menjadi manusia untuk disiksa sebagai penebus dosa manusia pertama yang melanggar aturan Allah sendiri? Dalam Alkitab,  terdapat larangan untuk mengkonsumsi babi, tetapi justru ummat islamlah yang tidak mengkonsumsinya. Dalam korintus, wanita wajib menutup kepalanya dengan tudung, tetapi ummat islam jugalah yang melaksanakannya. Dalam Alkitab, Yesus pun wudhu sebelum memasuki bait Allah. Ia membasuh wajah, tangan dan kaki serta meminyaki kepalanya, lalu masuk dengan melepas alas kaki. Lagi-lagi, yang melakukannya adalah umat islam. Jadi umat islam lebih cinta Yesus daripada umat nasrani. Karena semua aturan yang Yesus bawa sebagai risalah dijalankan oleh umat islam.

Sejak memutuskan diri menjadi mualaf, Kak Yasmin pun dapat merasakan adanya berbagai perbedaan antara islam dan agama yang beliau anut sebelumnya. Semua agama sepakat mengajarkan kebaikan, namun islam bukan sekedar baik tetapi juga benar dan lurus. Islam adalah agama dimana zamanlah yang mengikuti kitab Al Quran, bukan kitab yang mengikuti zaman. 1400 tahun lebih Al Quran turun sebagai wahyu yang Rasulullah bawa, sampai sekarang tidak pernah ada revisi, semua hukum syariatnya dan isinya tidak pernah ketinggalan zaman. Berbeda dengan Alkitab yang dalam kurun waktu tertentu telah banyak direvisi.

Sebagai seorang mualaf, tentunya Kak Yasmin juga dihadapkan dengan berbagai tantangan, baik dari keluarga maupun teman-temannya. Berpindah agama seringkali dianggap sebagai aib. Bukan hanya kasus non muslim ke agama lain, dari islam masuk agama lain pun dianggap aib bagi keluarga. Saat itu, beliau sudah siap dengan kemungkinan terburuk. Kalau diusir dari rumah, beliau pun sudah siap karena sudah bekerja dan penghasilan pada waktu itu insyaa Allah cukup untuk survive. Beliau begitu yakin dan percaya Allah pasti memberikan jalan. Kalau harus menderita terlebih dahulu, tidak apa-apa, karena semua memang harus dijalani. Karena kalau mau mundur, beliau khawatir jika nanti meninggal dalam keadaan bukan islam, lalu didandani sedemikian rupa, dipakaikan gaun, dimasukkan ke dalam peti, setelah itu karena masih ada keturunan chinese jadi harus dibakar, “nggak enak banget” tukasnya. Semua anggota keluarga beliau yang telah meninggal pasti dikremasi. Beliau lebih memilih dimaki-maki sebentar, sabar menunggu sampai emosi keluarganya mereda, setelah itu baru diskusi baik-baik. Beliau percaya, sampai kapanpun hubungan darah tidak akan pernah hilang. Namun, di saat itu juga teman-teman katholiknya mulai menghilang satu persatu. Sejak mengucapkan syahadat, sampai saat ini beliau pun belum pernah bertemu keuarga besar. Ibunya meninggal sebelum Kak Yasmin masuk islam, sedangkan ayahnya masih menganut katholik dan alhamdulillah saat ini sudah bisa menerimanya.

2ccd954ba1deb24d39da0bb4377a58e2.jpg
Source: Pinterest by We Heart It

Dulu sebelum mengenal islam, Kak Yasmin menganggap bahwa islam itu kasar, bar bar, anarkis, identik dengan kebodohan, kemiskinan, dan hal-hal yang sangat negatif. Mungkin karena beliau telah diframming sedemikian rupa, padahal kenyataannya tidak seperti itu. Karena jumlah umat islam di Indonesia ini besar, mungkin hal ini dianggap menjadi ancaman bagi kaum minoritas, sehingga dibentuklah opini yang negatif. Negara ini belum menjadi negara dengan sistem pemerintahan syar’i, namun islam sudah sering dipojokkan karena beberapa syariatnya yang sesuai dengan aturan Allah. Paham yang ada sekarang ini sangat berseberangan dengan islam. Kalau sampai islam tegak, maka semua paham yang ada bisa bubar. Apalagi zaman sekarang, kita semua menjadi korban kapitalisasi, sekulerisme, hedonisme, dan lainnya yang merupakan bentukan manusianya sendiri. Agama menjadi ancaman bagi mereka. Dan yang paling mengerikan, mereka mungkin berfikir agama tidak semestinya ada.

Kak Yasmin sempat membahas mengenai Alkitab yang dimiliki kaum nasrani, yaitu Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB) yang ditulis oleh kaum Yahudi. Dalam PL, banyak aturan dan sabda dari Yesus Kristus, sedangkan dalam PB ada Injil kanonik yg ditulis oleh para murid Yesus, yakni Lukas Matius dan Markus Yohanes. Hampir semua isi PB memuat pernyataan para murid, bukan dari Yesus. Dan umat nasrani sekarang menyatakan bahwa PL sudah tidak dipakai lagi, tetapi yang dipakai adalah PB, dimana aturan-aturan dalam PL tidak perlu dilakukan lagi. Padahal dalam Alkitab tidak ada perintah meniadakan aturan itu, bahkan ada statement yang menyatakan “tidak akan aku hilangkan walau satu iota pun dari hukum-hukum itu”. Dalam PL juga terdapat perintah Tuhan yang turun kepada Nabi Musa, yakni Taurat.

Sabtu, 15 Desember 2018

6 pemikiran pada “A Journey to Find the Deen of Islam

  1. Waah, perjalanan yang indah. Nice 🌸

    Aku pernah bertanya dulu, mengapa banyak muallaf lebih hebat dari muslim yang sejak lahirnya? Jawabannya adalah karena mereka menemukan iman dengan jalan berpikir, sehingga bagi mereka islam bukan sekedar rutinitas, tapi juga sebuah Way of life. 😊

    Disukai oleh 1 orang

    1. Iyaa, benar sekali kaak…
      Beberapa temenku ada yg muallaf juga, dan mereka semangat belajarnya jauh lebih tinggi. Astagfirullah, malu sekali rasanya kalau lihat mereka… 😫

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s