Rasa Penat yang Terkerat

Menempuh penatnya perjalanan pulang di waktu petang, seringkali mendatangkan rasa keharuan. Sebab pada kesempatan seperti itu, aku semakin tau, betapa banyaknya wajah-wajah lelah yang sedang berlalu lalang dalam perjalanan kembali ke tempat persinggahan. Tak jarang ku menerka: tadi, sepagi apa mereka bergegas? Apakah sepertiku yang seringkali bergelut dengan gelapnya kabut? Atau, saat mentari telah membuat bulir-bulirnya menyurut?

Di sepanjang jalan menuju pulang, terkadang justru ku temukan seorang anak yang menjinjing tas penuh gorengan di persimpangan, berusaha menawarkan pada siapapun yang melintas di sekitar. Atau barangkali di sudut tikungan jalan, tampak penjual baso tusuk yang baru saja datang untuk menjemput rizkinya di bawah naungan langit malam. Berkali-kali juga sempat ku jumpai penjual buah potong yang sedang memakan sisa dagangannya di bahu jalan –yang bahkan terkadang gerobaknya masih cukup penuh dengan yang utuh. Dan tak jarang ku dapati penjual batagor dengan langkah ringannya mendorong gerobak di tengah hujan.

Semuanya kembali menyadarkan –juga semakin mengingatkan, betapa rasa lelah menghampiri setiap orang, betapa rasa penat tak hanya ku rasakan sendirian. Di antara orang-orang yang ku temui, pasti ada yang jauh lebih jenuh, namun tak pernah mengeluh, dan mungkin mereka jauh lebih penat, namun tetap semangat. Lalu, hatiku pun menghangat. Betapa sederhananya cara Allaah membuat rasa penat ini terkerat, lewat mereka yang hari-harinya pun tak kalah berat.

Ingin ku sampaikan terima kasih kepada anak kecil penjual gorengan di persimpangan, kepada bapak penjual baso tusuk di sudut tikungan, kepada bapak penjual buah potong di bahu jalan, hingga mamang penjual batagor yang selalu melangkahkan kakinya dengan ringan –yang tanpa mereka sadari telah menjadi pengingat bagiku untuk bersyukur lebih dalam.

Gambar hanya pemanis

by A Patsanan KS Chai on Pexels.com

Tampak

Diam-diam, sering ku bubuhkan kebahagiaan; ku sematkan keharuan; dan ku titipkan kesenangan; pada setiap kata yang ku guratkan. Diam-diam, sering ku selipkan kemarahan; ku sisipkan kekesalan; ku tautkan kekecewaan –hingga kepedihan, dalam bait-bait yang ku suratkan. Inginku membuatnya samar, namun kenyataannya cukup sukar. Sepertinya sulit, memang, sebab tulisan-tulisan di sini seringkali terlahir usai negosiasi yang cukup panjang antara pikiran dan perasaan. Hingga, segalanya pun tercurahkan…

Anotasi Hati

Tidak apa-apa…
Bahkan senja yang keindahannya tak terbantahkan pun terkadang juga muram. Ia tak selalu riang saat menyambut kedatangan malam. Terkadang kelam, menyungging beratnya awan hitam yang tak kunjung hilang hingga petang menjelang. Sesekali gerimis ringan turut menenggelamkan wajah indah yang telah digambarkannya sejak pagi datang, hingga lukisan cakrawala megahnya yang belum tuntas pun harus secepat itu terhapuskan.

Seindah dirinya tak selalu mendatangkan kekaguman, sebab terkadang celah-celah persaingan. Ada siang yang berlama-lama menampakkan diri bersama arakan awan, hingga menerbarkan butiran berlian di birunya lautan untuk mendecakkan kekaguman seluruh alam. Ada malam yang tak mau membiarkannya terlalu lama disanjung oleh banyak orang dan segera datang memperlihatkan bintang gemintang untuk merebut kembali pujian.

Sesekali, coba tataplah goresan rupanya saat ia hampir pergi. Keindahan yang dimilikinya memang terbilang singkat sekali, namun demikian ia sangat tau diri. Meski sekejap di ujung hari ‘tuk melengkapi kehadiran mentari, tetapi, wajah teduhnya sangat dirindui, datangnya seringkali dinanti. Ku rasa telah digenggamnya seuntai keyakinan dalam diri: bahwa atas izin Pemiliknya, ia ‘kan datang lagi esok hari; atas ingin Penciptanya, ia pasti kembali –selama kehadirannya masih diingini.

Jadi, maukah kau belajar (lagi) bersamaku? Belajar darinya yang tetap mau berkawan dengan awan kelabu, meskipun lebih sering membuatnya terbelenggu. Belajar darinya yang selalu tau akan waktu, tentang seberapa lama harus merangkum sendu untuk kembali bercengkerama di sela gurat langit biru, lalu menciptakan lagi semburat warna-warni yang menyenangkan kalbu.

–self comfort.

Photo by Jacub Gomez on Pexels.com

Maukah?

Entah itu pertemuan maupun perpisahan, dalam keduanya, pasti akan selalu terselip makna indah penuh kebaikan. Untuk memberi atau mendapatkan; untuk belajar maupun mengajarkan; untuk direlakan dan mengikhlaskan, yang seluruhnya akan menjadi bagian teramat berharga dalam proses pendewasaan.

Apa yang akan dan telah Ia tetapkan, memang selalu tak terduga. Suguhannya berupa-rupa peristiwa yang tak terjangkau oleh logika. Ku rasa, itulah salah satu hal yang membuatNya begitu mengagumkan dan tak perlu lagi diragukan. Namun pertanyaannya, pada setiap baik buruknya suatu peristiwa, maukah kita memetik hikmah untuk kemudian merenungkan segenggam makna yang ada di dalamnya?

Angin

Di penghujung musim ini, kulihat kembali ranting-ranting kering pepohonan patah. Hangatnya sentuhan angin yang dinantikannya kini justru meluluhlantakkan segala kisah. Merapuhkan setiap bilah, menenggelamkannya dalam gelagah rindu yang kian terbantah sejak beradunya ia dengan hamparan tanah.

Kurasa segalanya pun mulai berubah. Langit biru yang membentangkan senyuman cerah, turut gundah. Bunga-bunga indah semula merekah, namun satu persatu kelopaknya terjarah oleh gelisah. Tanah semakin basah oleh rintik embun yang dijatuhkan ranting-ranting gundah. Daun-daun tampak kian lelah, bertahan pada setiap dahan dengan susah payah. Seluruh karsa yang semula begitu indah, kini menjelma resah tanpa kesah.

Lihatlah, bahkan semesta pun seakan turut berkilah. Seolah, kerinduan pada desir angin yang disimpan dalam setiap ujung galah pepohonan itu adalah sesuatu yang salah, hingga membuat jumpa yang didamba oleh tiap dahannya pun tak menemukan arah. Justru kini terpecah bagai serpihan noktah, tak terbalas dengan indah.

Dan akhirnya, dedaunan yang mulanya masih mencoba untuk bertahan pada setiap bahu pepohonan, kini mulai beterbangan. Lembar demi lembarnya benar-benar terlepas dari rangkaian dahan, meninggalkan kenangan. Penasaran, kutanyakan pada serumpun helainya, mengapa mereka saling berjatuhan ketika musim yang dinantikan hampir datang?

Sejenak tak ada jawaban. Lantas hanya tercium aroma keheningan yang mencipta seutas kehampaan. Namun sejurus kemudian, satu diantaranya pun berucap dengan tenang,

“Bukankah dirimulah yang menerbangkanku dari ranting pepohonan?”

Aku pun terdiam.

Benarkah?

Kemudian, kusadari bahwa diriku tengah berhembus perlahan.

10 Juni 2022

Photo by Nubia Navarro on Pexels.com

Menentukan Peran

Setiap diri kita, adalah pemeran utama dari sebuah cerita. Namun, ketertarikan berlebih akan kisah orang lain tanpa sadar membuat diri kita mulai abai terhadap kisah yang kita punya. Tak heran jika setelahnya hanya tersisa kerendahan diri ketika alur yang kita lalui terlihat tak semenarik jalan cerita mereka.

Lalu, ketidakpercayaan akan diri sendiri mulai tereduksi, yang pada akhirnya mengerucut pada satu kata: insecurity. Setiap hari, yang kita lakukan hanya menjadi pemerhati, dan merasa bahwa diri kita minim arti.

Latas, bagaimana lagi?

Terkadang, justru kita sendirilah yang memutuskan untuk menjadi figuran. Padahal kita juga bisa melahirkan kisah yang tak kalah mengagumkan.

Barangkali kita bisa memulai kembali kisah itu dengan bersyukur terlebih dahulu (?)

Rasa Benci yang Membebani

Seseorang yang memendam kebencian di dalam hati, pasti sudah cukup terbebani dengan perasaannya sendiri. Jadi, tak perlulah kita menambah beban di hatinya dengan balas membenci. Sementara ia sejenak berkutat dalam kegelisahannya, kita pun berkutat dengan bait doa, semoga Allaah Yang Maha Membolak-balikkan hati segera menjauhkan segala prasangka buruk dari dalam kalbunya.

Photo by Pok Rie on Pexels.com