[Review] And The Mountains Echoed

JudulAnd The Mpountains Echoed [Indonesian Version]
PenulisKhaled Hosseini
PenerbitQanita
Tahun TerbitMei, 2013
Jumlah Halaman516
ISBN978-602-9225-93-8

Kulihat peri kecil muram,
Di keteduhan pohon kertas.
Kumengenal peri kecil muram,
Yang tertiup angin suatu malam.

Abdullah sangat menyayangi Pari, adik satu-satunya. Sejak ibu meninggal dan ayah mereka menikah lagi dengan Parwana, Abdullah menjadi ayah, sekaligus ibu bagi Pari. Bagi Abdullah, Pari adalah bumi, langit sekaligus seluruh semestanya. Dalam kehidupan pedesaan Afganistan yang keras dan kejam, Pari adalah seberkas cahaya matahari bagi Abdullah. Lalu, ayahnya menjual Pari ke pasangan kaya di Kabul, demi kelangsungan hidup keluarga mereka di musim dingin. Abdullah limbung, dunianya hancur. Tak ada lagi Pari, tak ada lagi kehidupan.
And The Mountains Echoed, novel ketiga Khaled Hosseini yang menggemakan kehidupan keras di Afganistan. Lewat novel ini, Hosseini berkisah bagaimana pilihan yang kita ambil akan bergaung hingga ke generasi selanjutnya. Bagaimana cinta yang tulus akan bergema ke seluruh semesta, memanggil jiwa-jiwa yang kehilangan belahannya.

***

Ceritanya cukup kompleks, tapi enjoyable read. Walaupun tokohnya banyak –yang masing-masing mempunyai screen time tersendiri; alurnya campuran; point of view berganti-ganti antara orang pertama dan ketiga; namun tetap bisa menyiratkan dengan cukup jelas korelasi antara satu bagian dengan bagian lainnya.

(lebih…)

Angin

Di penghujung musim ini, kulihat kembali ranting-ranting kering pepohonan patah. Hangatnya sentuhan angin yang dinantikannya kini justru meluluhlantakkan segala kisah. Merapuhkan setiap bilah, menenggelamkannya dalam gelagah rindu yang kian terbantah sejak beradunya ia dengan hamparan tanah.

Kurasa segalanya pun mulai berubah. Langit biru yang membentangkan senyuman cerah, turut gundah. Bunga-bunga indah semula merekah, namun satu persatu kelopaknya terjarah oleh gelisah. Tanah semakin basah oleh rintik embun yang dijatuhkan ranting-ranting gundah. Daun-daun tampak kian lelah, bertahan pada setiap dahan dengan susah payah. Seluruh karsa yang semula begitu indah, kini menjelma resah tanpa kesah.

Lihatlah, bahkan semesta pun seakan turut berkilah. Seolah, kerinduan pada desir angin yang disimpan dalam setiap ujung galah pepohonan itu adalah sesuatu yang salah, hingga membuat jumpa yang didamba oleh tiap dahannya pun tak menemukan arah. Justru kini terpecah bagai serpihan noktah, tak terbalas dengan indah.

Dan akhirnya, dedaunan yang mulanya masih mencoba untuk bertahan pada setiap bahu pepohonan, kini mulai beterbangan. Lembar demi lembarnya benar-benar terlepas dari rangkaian dahan, meninggalkan kenangan. Penasaran, kutanyakan pada serumpun helainya, mengapa mereka saling berjatuhan ketika musim yang dinantikan hampir datang?

Sejenak tak ada jawaban. Lantas hanya tercium aroma keheningan yang mencipta seutas kehampaan. Namun sejurus kemudian, satu diantaranya pun berucap dengan tenang,

“Bukankah dirimulah yang menerbangkanku dari ranting pepohonan?”

Aku pun terdiam.

Benarkah?

Kemudian, kusadari bahwa diriku tengah berhembus perlahan.

10 Juni 2022

Photo by Nubia Navarro on Pexels.com

Menentukan Peran

Setiap diri kita, adalah pemeran utama dari sebuah cerita. Namun, ketertarikan berlebih akan kisah orang lain tanpa sadar membuat diri kita mulai abai terhadap kisah yang kita punya. Tak heran jika setelahnya hanya tersisa kerendahan diri ketika alur yang kita lalui terlihat tak semenarik jalan cerita mereka.

Lalu, ketidakpercayaan akan diri sendiri mulai tereduksi, yang pada akhirnya mengerucut pada satu kata: insecurity. Setiap hari, yang kita lakukan hanya menjadi pemerhati, dan merasa bahwa diri kita minim arti.

Latas, bagaimana lagi?

Terkadang, justru kita sendirilah yang memutuskan untuk menjadi figuran. Padahal kita juga bisa melahirkan kisah yang tak kalah mengagumkan.

Barangkali kita bisa memulai kembali kisah itu dengan bersyukur terlebih dahulu (?)

Rasa Benci yang Membebani

Seseorang yang memendam kebencian di dalam hati, pasti sudah cukup terbebani dengan perasaannya sendiri. Jadi, tak perlulah kita menambah beban di hatinya dengan balas membenci. Sementara ia sejenak berkutat dalam kegelisahannya, kita pun berkutat dengan bait doa, semoga Allaah Yang Maha Membolak-balikkan hati segera menjauhkan segala prasangka buruk dari dalam kalbunya.

Photo by Pok Rie on Pexels.com

Mengejar

Mengejar, tak selalu tentang mendapatkan. Sebab terkadang di sepanjang perjalanan, justru kita temukan berbagai macam peristiwa yang menyadarkan diri kita akan keharusan untuk melepaskan. Peristiwa yang menjadi alasan terbesar untuk berhenti berjuang. Namun ada kalanya, pilihan terbaik dari sebuah perjuangan memanglah berhenti meskipun kita baru saja menjejakkan langkah kaki.

Perihal Ikhlas

Jika dirimu ingin mengetahui suatu perkara yang teramat rahasia di dunia, maka ikhlas pasti menjadi salah satu di antaranya. Ia bukan tentang logika, melainkan perihal hati. Sebab tempatnya berada di palung terdalam dari lubuk yang begitu sulit untuk diselami.

Lapang

Memaafkan itu bukan perkara siapa yang benar, dan meminta maaf pun bukanlah perkara siapa yang salah, sebab yang mampu melakukan keduanya –baik memaafkan maupun meminta maaf, adalah ia yang hatinya paling lapang.