Gerimis

Malam ini gerimis berjatuhan dengan suara yang sedikit lebih tenang. Entah apa yang ingin mereka sampaikan, akupun tak cukup paham. Namun melihat gemintang yang bermunculan, rembulanpun masih mengintai meski awan berusaha menghalang, kurasa, memang ada sebuah kabar yang ingin disampaikan…

Barangkali, tentang kebahagiaan?

Pertalian Musim

Telah cukup lama hujan tak berkunjung ke sini. Kabarnya, pada masa ini ia enggan berjatuhan di bawah terik matahari, sebab dirinya begitu mengerti kapan waktu yang paling tepat untuk menampakkan diri maupun bersembunyi. Kali ini, dibiarkannya mentari mengambil alih perhatian dari setiap sudut bumi ‘tuk menyinari bunganya hingga sore hari, tanpa diburu oleh pertalian musim yang silih berganti. Masing-masing menghargai setiap ruang yang dimiliki. Sepenuhnya menyadari bahwa ada masa bagi diri mereka untuk memulai, begitupun untuk usai. Meski tak dapat saling menjumpai, mereka layaknya kawan yang saling melengkapi. Mengindahkan kisah dengan cara hadir pada tempat dan waktunya sendiri-sendiri. Silih berganti… Datang dan pergi… Tanpa menyelisihi…

9 Juli 2020

Photo by Jack Redgate on Pexels.com

Sebuah Kota

Rasanya cukup berat meninggalkan kota yang hampir saja mengikat relung hatiku sepenuhnya. Namun bagaimana, jika semua urusanku telah usai di sana. Segala rasa yang tersisa, bersama kenangan sedih maupun bahagia, kutinggalkan saat itu juga di berandanya.

Namun sebelum benar-benar berlalu, kala itu tiap sudutnya telah kutitipi rindu. Nanti, saat kau berkunjung suatu waktu, biar disampaikan seluruhnya kepadamu.

Disurati Embun Pagi

Hai, selamat pagi.
Kudengar dari bisik lembayung di luar jendela kamarmu semalam, tidurmu tak begitu nyaman, mimpi indahmu terusik oleh carut-marutnya benang yang terpilin tak karuan dalam pikiran. Mereka juga bilang, kemarin kau tutup rapat ruanganmu seharian. Mendengar hal itu, aku pun merasa tak tenang, ingin segera menjumpaimu saat fajar menjelang. Namun hingga pagi datang, kau masih terdiam. Kuharap dirimu lekas merasa baikan, kemudian membuka tirai pelan-pelan agar dapat kembali menyaksikan indahnya matahari pagi yang memeluk bunga-bunganya dengan penuh kehangatan.

Sebenarnya hal yang sama pun ingin sekali kulakukan, memberi sebuah pelukan agar hatimu lebih tenang. Namun aku terlalu dingin dalam menawarkan kehangatan, sehingga kuputuskan saja untuk menyampaikan sebuah tulisan di pekatnya kabut yang membuat kaca jendelamu buram. Semoga saat kau terbangun, ia belum memudar.

(lebih…)

Prasangka

Kukira, dunia akan jauh lebih mudah dilalui ketika segalanya berjalan seperti apa yang kuharapkan. Namun ternyata, di tempat beradanya kesulitanlah rasa syukur tertinggi kutemukan.

La.

Sudah…

Kurasa aku telah jauh berjalan, namun entah mengapa tak ada ujung yang kunjung kutemui. Aku tak mungkin lagi berhenti karena kamu tak pernah memanggilku untuk kembali. Sekalipun kupaksakan diri untuk memutar langkah kaki, kurasa hanya akan percuma sebab dirimu telah pergi menapaki puncak gunung yang terlampau tinggi hingga cukup sulit kudaki.

Setiap kali kembali, kamu hanya akan bercerita tentang betapa indahnya gumpalan awan yang kau jumpai. Namun, sesungguhnya kisahmu begitu sulit kumengerti sebab aku tak pernah menyaksikannya sendiri. Aku hanya akan tersenyum, mengangguk, berusaha memahami… Memahami suaramu yang terdengar semakin jauh, meninggalkan frasa-frasa yang digoreskan tinta kusam dalam selembar kertas di palung terdalam…

Kini, tinta itu telah memudar seiring bayangmu yang kian menghilang. Menyisakan kegelapan karena seberkas cahaya yang pernah kau hidupkan tak lagi ingin kujadikan sebagai penerang bagi sepetak ruangku yang petang… Namun, meski cahaya darimu telah padam, aku tau dalam lubukku masih tersembunyi sinar terang yang tak akan mudah hilang…

June, 1st 2011
Just found this absurd old journal on my folder
and fixed some spelling and grammar

(Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com)