Ke Mana Perginya?

Saya nggak tau, apakah termasuk tindakan yang tepat dengan menceritakan permasalahan ini di sini. Tapi saya hanya butuh tempat untuk berkeluh kesah, untuk mengeluarkan segala sesuatu yang selama lebih dari dua minggu ini cukup membuat diri saya tertekan. Awalnya saya ingin menyembunyikan hal ini dari semua orang, sebab saya masih memiliki kekhawatiran akan dikucilkan, dijauhi, ditakuti. Tapi akan lebih egois kalau tidak jujur tentang masalah ini. Dan sepertinya memang tidak ada salahnya, toh menulis juga bisa membuat perasaan seseorang menjadi lebih lega…

(lebih…)

A Late Bloomer

I know I am a pretty late bloomer. When another flower rises in the spring, I still a bud till the end of summer. My petals stuck each other while my leaves will fall sooner or later and makes me shiver in the winter, frozen by snowflakes power. But now I think it’s not a big problem since I’m a late bloomer, because each bud goes through its own struggles. So I choose to learn from those bloomed flowers with an eye to get better and I have to be a grateful fighter. I’m sure, I will bloom in my own warmest spring as my petals will spread together…

(lebih…)

Tak Perlu Memaksakan Diri

Tak perlu memaksakan diri.
Segala harap tak harus selalu terpenuhi.
Segala ingin tak selalu berujung dimiliki.
Lagi pula, bukankah pada akhirnya segala milik pasti akan pergi?

Tetapi…
Bukankah sesungguhnya tak ada satu pun yang benar-benar kita miliki?

Image: © 7-themes.com

Masih

Aku hanyalah rekahan tanah kemarau panjang, sedang dirimulah hujan yang didambakan banyak orang. Suaramu menderu penuh keteduhan, sementara tubuhku dibias retak yang tak diharapkan. Rintikmu candu yang dirindu kuncup-kuncup merah muda dalam terik penantian. Jika tak keliru, tunas-tunas kecil pun saling bergurau untuk kau perhatikan. Kamulah hujan yang menyemai keindahan, dan akulah gersang yang mencabik kehidupan.

Ku rasa dirimu tak akan paham sedihnya dedaunan yang meranggas, sendunya kelopak-kelopak bunga yang terbetas, kala tirai musim kering mulai dilepas. Sebab rintikmu menghilang begitu saja usai menderas. Sementara, akulah saksi bisu bagi ranting-ranting kering yang menggetas. Deru angin bahkan sempat berbisik di samping bahuku yang mengeras, bahwa hadirku lah sebab daun-daun menguning dengan cemas, karena enggan terhempas.

Mereka bilang, datangku cambuk yang ditakuti, pergiku seringkali dinanti. Namun, aku yang menyedihkan ini lebih kasihan pada setiap kuntum yang kau hampiri. Mereka begitu lama menanti, sedangkan dirimu hanya merindui pelangi…

(lebih…)