Disurati Embun Pagi

Hai, selamat pagi.
Kudengar dari bisik lembayung di luar jendela kamarmu semalam, tidurmu tak begitu nyaman, mimpi indahmu terusik oleh carut-marutnya benang yang terpilin tak karuan dalam pikiran. Mereka juga bilang, kemarin kau tutup rapat ruanganmu seharian. Mendengar hal itu, aku pun merasa tak tenang, ingin segera menjumpaimu saat fajar menjelang. Namun hingga pagi datang, kau masih terdiam. Kuharap dirimu lekas merasa baikan, kemudian membuka tirai pelan-pelan agar dapat kembali menyaksikan indahnya matahari pagi yang memeluk bunga-bunganya dengan penuh kehangatan.

Sebenarnya hal yang sama pun ingin sekali kulakukan, memberi sebuah pelukan agar hatimu lebih tenang. Namun aku terlalu dingin dalam menawarkan kehangatan, sehingga kuputuskan saja untuk menyampaikan sebuah tulisan di pekatnya kabut yang membuat kaca jendelamu buram. Semoga saat kau terbangun, ia belum memudar.

Aku hanya ingin melanjutkan perbincangan singkat kita beberapa waktu silam yang sempat terjeda karena saat itu terlalu cepat ku berpamitan: tentang diriku yang sempat berkeinginan untuk dapat bersandar sebagaimana dedaunan di bahu pepohonan. Sampai sekarang, aku masih saja menganggap mereka istimewa saat bercengkrama dengan indahnya bunga-bunga di ujung dahan. Walau angin menerpa, ia masih bertahan. Tumbuh dengan perlahan, tak mudah hilang sebelum memerah karena rentan.

Sementara aku… Kau pasti sudah cukup paham bagaimana aku tak punya banyak waktu untuk tinggal. Meski berusaha kuperlambat laju perjalanan, pada akhirnya tetap tak kuasa melawan gravitasi yang begitu besar. Jika tidak, pasti ‘kan segera lenyap disengat terik mentari jelang siang. Kurasa, aku cukup menyedihkan karena menguap di ujung perpisahan, kemudian terlupakan.

Namun, taukah? Suatu ketika, sepercik diriku terjatuh di ujung rerumputan yang meranggas kala musim kemarau panjang. Di sana, kudengar sepenggal cerita bahwa ternyata kehadiranku menjadi satu dari sekian banyak hal yang seringkali mereka rindukan. Bahkan ketika aku singgah di atas dedaunan yang rentang hidupnya sempat kudambakan, mereka pun membisikkan sebuah pesan bahwa rintik kecilku menjadi penyejuk yang selalu dinantikan. Sungguh betapa terlarutnya aku dalam kepedihan yang selama ini kuperankan, hingga luput ‘tuk menyadari bahwa Tuhan telah menyertakan kebaikan atas diriku bagi sekitar…

Sebelumnya, dalam benakku sempat terbersit sebuah tanya, hadirku untuk apa jika dengan cepatnya hanya ‘kan menguap begitu saja? Namun kini kumengerti, bahkan setetes bagian dari diriku ini sejatinya punya makna. Oleh karenanya, apabila dirimu terkadang masih merasakan hal yang sama, semoga kau mau sejenak mengingat: bahwa sesungguhnya dunia ini terlalu luas jika dilihat dari sudut pandangmu saja. Kuharap kau berhenti menganggap dirimu tak ada artinya, sebab pada setiap tempat yang tepat, keberadaanmu selalu memiliki makna.

Dan ingatlah sekali lagi mengapa dirimu begitu berharga: karena, mana mungkin Allah menciptakan suatu hal yang sia-sia? Iya, kan?

7 Juli 2021

Photo by Irina Iriser on Pexels.com

Iklan

5 pemikiran pada “Disurati Embun Pagi

  1. Embun pagi sudah sirna.

    Saatnya kita bangkit serta kembali berupaya.

    Simpan sejenak kesedihan.

    Kunci sebentar kepedihan.

    Saatnya kita kembali berjalan.

    Tak apa memulai langkah pelan.

    Yang penting selangkah maju kedepan.

    😂

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s