Batas yang Tak Dapat Diretas

Ada saatnya kamu tak lagi bisa berpura-pura mengabaikan ketidaknyamanan yang sedang dirasakan oleh seseorang. Kamu tak dapat menutup mata terhadap usahanya untuk mengubur sebuah permasalahan, hingga berbagai prasangka dalam dirimu turut bermunculan. Meskipun prasangka itu belum dapat dikonfirmasi kebenarannya, paling tidak intuisimu terlebih dahulu berbicara dan batinmu telah menerka bahwa ada ketidakwajaran yang tengah menggeliat di dalam hatinya.

Ketika kamu berada di posisi sebagai seorang kawan, saat itulah dirimu dihadapkan dengan beberapa pilihan. Mungkin rasa kepedulian membuatmu tergerak untuk bertanya agar dia mau berbagi sedikit luka; boleh jadi rasa empati turut memberikan sugesti untuk menyemangati tanpa perlu banyak berkata; atau logika justru mencegah dirimu untuk bersuara. Dari berbagai opsi yang bermunculan, aku yakin bahwa sebenarnya kamu tak mau tinggal diam. Namun, dirimu pun tak dapat memaksa ketika ia justru memilih kalimat tidak apa-apa sebagai jawaban atas kepedulian yang kamu tunjukkan.

Pernahkah kamu mengira, bahwa sepenggal kalimat tidak apa-apa yang diucapkan olehnya (mungkin) menjadi sebuah jawaban yang sudah cukup mewakili segalanya? Baginya, tidak apa-apa berperan sebagai sebuah sekat yang menandakan bahwa keingintahuanmu cukup sampai di sana, sebab kalimat itu pun layaknya isyarat agar dirimu sejenak mengistirahatkan rasa penasaran. Jika masih saja dikejar dengan desakan pertanyaan lainnya, hal itu justru berpotensi membangkitkan perasaan serba salah pada dirinya, hingga menimbulkan ketidaknyamanan dalam hatinya. Coba mengertilah, mungkin saat ini dia memang (sedang) tidak ingin bercerita. Itu saja.

Ketika tiba waktunya nanti, perlahan-lahan mungkin dia akan mulai terbuka atas segala hal yang telah dilalui. Namun perlu diingat kembali, bahwa dia hanya akan memberikan informasi kepada pihak-pihak yang dikehendaki. Cukup baginya menyampaikan segala cerita kepada orang-orang yang ingin diajaknya untuk berbagi. Ketika dirimu hadir di saat pintunya masih terkunci, maka kamu hanya perlu berbalik arah dan pergi, atau kembali menepi sambil menanti, siapa tau dia benar-benar mau membuka diri. Tak perlu memaksa menembus dinding yang ia bangun tinggi-tinggi, sebab tidak semua hal yang bersembunyi di balik pagarnya harus kamu ketahui. Sedekat apapun kamu dengannya, bukankah masing-masing tetap memiliki ruang pribadi?

Aku, kamu, begitu pun dia, mempunyai timbunan permasalahan yang berbeda. Saat dirimu merasa jauh lebih baik usai berkeluh kesah kepada seseorang tentang segala hal, belum tentu dirinya pun demikian, karena setiap orang memiliki “tempat peraduan” yang tak sama. Bagaimanapun, kamu tetap harus memberikan jeda, sebab dirinya lebih mengerti tentang apa ใƒผbegitu pun siapa, yang benar-benar sedang dibutuhkannya. Ketika yang lain memilih berlari kepada manusia, siapa yang dapat menyangka jika ia justru memilih bersembunyi di balik kalimat tidak apa-apa daripada mengiba kepada dunia?

Kupikir, bukan karena bermaksud ingin terlihat baik-baik saja. Namun dia telah memahami apa yang harus dilakukan kala berpacu dengan lara, juga siapa yang harus dicari saat berjibaku dengan perihnya luka. Biarkanlah jika dia memang ingin sejenak berpaling dari semesta untuk menuntaskan seluruh kegelisahan kepada Pemilik hatinya. Kamu tak harus datang jika tak diinginkan. Cukup berikan keyakinan, bahwa dirimulah teman yang akan selalu berusaha ada setiap kali dibutuhkan. Aku tau, betapa ingin kau pahami keadaannya, namun baik kamu maupun dia, sama-sama memiliki batas yang tak bisa diretas: batas untukmu bertanya dan batas baginya untuk bercerita.

Maka, kurasa tak perlu lagi mengasuh keingintahuan yang kau miliki. Tetaplah peduli, namun tanpa mengabaikan privasi.

ใƒผ17 Desember 2020.

Photo by Travis Saylor on Pexels.com

15 pemikiran pada “Batas yang Tak Dapat Diretas

  1. aku senang membaca buah pikiranmu ini, mbak latifa. aku merasa terwakili.

    aku sering mengatakan “tidak apa-apa” kepada mereka yang mempedulikanku sebegitunya. aku menutup cerita, bukan karena tidak ingin berbagi suka dan duka.

    hanya saja, semakin dewasa, yang paling menenangkan adalah menyendiri ke ruang sepi. lalu, berkeluh kesah kepada Allah saja. bersama sepi, energi terisi penuh kembali.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Terima kasih mbak Shinta…
      Baca komen ini, rasanya terharu sekali.

      Memang benar ya, terkadang kita butuh menyendiri untuk menyelesaikan segala permasalahan yang sedang kita hadapi. Tujuan utama kita bukan lagi manusia. Berkeluh kesah kepada seseorang tidak menjamin semuanya akan cepat terselesaikan, karena terkadang justru berpotensi menambah panjang permasalahan~

      Semangat mbak Shinta! Semoga kita selalu diberikan kekuatan, apapun ujian yang Allah berikan ๐Ÿ˜ŠโœŠ

      Disukai oleh 1 orang

      1. terus menulis apapun jenis tulisannya, mbak latifa. aku adalah pembaca blog yang merasa beruntung menemukan penulis dengan perspektif sepertimu, mbak ๐Ÿ’•

        benar, mbak latifa :’) cara terbaik menemukan solusi adalah diam dan menenangkan diri. biasanya, melalui “jalan” itulah, Allah kasih kemudahan-kemudahan kepada kita ya, mbak.

        Semangat! Semangat juga, Mbak Latifa! Aamiin Allahumma Aamiin ๐Ÿฅฐ

        Disukai oleh 1 orang

      2. Terima kasih mbak Shin…
        Aku lebih beruntung karena banyak belajar dari tulisan-tulisanmu, mbak. 30DWC-nya mbak Shinta masih jadi favoritku sampai sekarang ๐Ÿ˜

        Iya, mbak. Selain dikasih kemudahan untuk menyelesaikan permasalahan, kadang juga dikasih kemudahan untuk mendapatkan inspirasi menulis. Hihiii

        Siaaap. Insyaa Allah ๐ŸŒป๐ŸŒป

        Disukai oleh 1 orang

      3. 30DWC yang diblog, mbak? Haha sama-sama mbak latifa. Semangat menulis ya kita ๐Ÿค—

        Bener banget hihi bahkan kalau aku, cuma bisa nulis ditempat yang sepi, mbak latifa. Ide langsung berantakan kalo nulis di tempat ramai ๐Ÿ˜…

        ๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s