Pilu

Pada suatu senja, sebuah rumah nyaris roboh sebab runtuhnya satu tiang penyangga. Dari empat sempurna, menyisakan tiga. Atapnya terluka, bilik-biliknya turut berduka, daun pintu pun berderit kencang penuh lara. Lemah tak berdaya, hampir menimpa seluruh isinya. Namun pagar-pagar di sekitar lekas mendekat ‘tuk mengokohkan barang sesaat. Saling berpegang erat agar bangunan itu tetap kuat, tak terkerat oleh pedih yang menjerat.

Lantainya yang abu semakin tampak kelabu. Jendela kaca berbingkai kayu menatap penuh sendu. Lika-liku tempat berteduh sejak puluhan tahun lalu, kini terkikis di salah satu penjuru. Penjuru yang pertama kali memupuk rindu, penjuru yang pertama kali menyambut setiap kehidupan baru penuh haru, penjuru yang menjadi tempat pertama menyentuh ilmu. Dan pada senja itu, sang penjuru pun menjadi yang pertama berlalu. Membuat setiap raga tergugu dalam sebuah episode biru.

Segalanya begitu mengejutkan sore yang lalu. Adegan itu kian sendu oleh suara gadis kecil yang tersedu. Isaknya mungkin lirih namun menyayat kalbu sesiapa yang menyaksikan peristiwa itu. Sorot matanya memancarkan duka kala menatap lekat sebujur kehidupan yang telah kaku. Meski terlihat rapuh tergerus ilu, namun hatinya cukup tangguh menapaki alur yang membiru. Ia tau, bahwa sejak saat itu, dirinya harus mampu berkawan dengan pilu…

Image source © itl.cat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s