Diam adalah Kepedulian

Ada kalanya, hal pertama yang paling dibutuhkan oleh seseorang saat menghadapi permasalahan ialah dukungan, bukan berbagai macam pertanyaan ーsekalipun sarat akan kepedulian. Terkadang, menjelaskan tentang rumitnya keadaan justru menjadi hal yang paling dihindari oleh seseorang, sebab ia hanya ingin mengubur dalam-dalam segala kesulitan, agar luka yang diderita tak semakin menganga, agar perih yang dirasa tak kian menyiksa, agar pulih yang didamba segera tercipta.

Meski sebuah pertanyaan dapat membuat kita ‘merasa’ mengerti keadaan yang ia alami, namun sesungguhnya kita tak akan benar-benar cukup memahami sesakit apa luka yang sedang berusaha ia rawat agar sembuh kembali. Sayangnya, beberapa pihak sering terlalu bernafsu menyerang dengan berbagai macam pertanyaan berkedok peduli, hanya untuk memuaskan dahaga keingintahuan di dalam hati. Egois sekali… Kenyataannya, tak semua orang benar-benar peduli dengan permasalahan yang sedang orang lain alami.

Ada apa?”, “Kamu kenapa?”, “Apa yang terjadi?”, “Ada masalah?”, “Apakah kamu baik-baik saja?”, “Butuh teman cerita?”, “Abcdefghijkok bisa?”. Rentetan pertanyaan seperti itu terkadang justru berubah menjadi suatu hal yang krisis makna. Peduli tak harus selalu diwujudkan dengan cercaan pertanyaan, bukan? Sebab kita tak tau seberapa rumit permasalahan yang sedang berkecamuk dalam benaknya. Mungkin saja, ia pun butuh jeda untuk memahami keadaan yang sedang dialaminya. Maka sebesar apapun keingintahuan kita, redamlah untuk sementara, tunggulah sejenak hingga ia mau bersuara. Nanti jika ingin, dia akan berkata dengan sendirinya. Usah lah dipaksa…

Memang benar bahwa kepedulian punya banyak sekali rupa. Terkadang ia berhawa penuh keingintahuan; seringkali berwujud nasihat yang menentramkan; lain waktu berupa uluran lembut penuh kehangatan; esoknya menjadi telinga yang senantiasa mendengarkan; namun tak jarang pula yang paling membantu justru lah diam. Tanpa kata, tanpa kehadiran. Bukan karena tak dibutuhkan, tetapi memang ada saatnya seseorang perlu menikmati kesendirian dan mencoba berkawan dengan rumitnya keadaan, agar perlahan dapat mencapai titik penerimaan. Ia pun perlu berdamai dengan dirinya agar tak selalu menjadikan orang lain sebagai pelampiasan. Maka, saat ia memilih untuk mengucilkan diri dari teruknya keadaan, saat itulah diammu menjadi salah satu bentuk kepedulian yang paling dibutuhkan…

© 1freewallpapers.com

4 pemikiran pada “Diam adalah Kepedulian

  1. Setuju kak, peduli tidak harus selalu diwujudkan dengan cercaan pertanyaan. Bahkan terkadang peduli dalam bentuk diam bisa diwujudkan dengan cukup merapalkan dalam doa tanpa harus bertanya apa dan kenapa, itu jauh lebih menyenangkan 😊

    Disukai oleh 1 orang

    1. Diam-diam mendoakan. Hihiiiy 😂
      Iyaa kak Ai, karena do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab 😄💕

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s