Masih

Aku hanyalah rekahan tanah kemarau panjang, sedang dirimulah hujan yang didambakan banyak orang. Suaramu menderu penuh keteduhan, sementara tubuhku terbias retak yang tak diharapkan. Rintikmu candu yang dirindu kuncup-kuncup merah muda dalam terik penantian. Jika tak keliru, tunas-tunas kecil pun saling bergurau untuk kau perhatikan. Kamulah hujan yang menyemai keindahan, dan akulah gersang yang mencabik kehidupan.

Ku rasa dirimu tak akan paham sedihnya dedaunan yang meranggas, sendunya kelopak-kelopak bunga yang terbetas, kala tirai musim kering mulai dilepas. Sebab rintikmu menghilang begitu saja usai menderas. Sementara, akulah saksi bisu bagi ranting-ranting kering yang menggetas. Deru angin bahkan sempat berbisik di samping bahuku yang mengeras, bahwa hadirku lah sebab daun-daun menguning dengan cemas, karena enggan terhempas.

Mereka bilang, datangku cambuk yang ditakuti, pergiku seringkali dinanti. Namun, aku yang menyedihkan ini lebih kasihan pada setiap kuntum yang kau hampiri. Mereka begitu lama menanti, sedangkan dirimu hanya merindui pelangi…

Lalu aku berbisik pada diriku sendiri, “Meskipun hanya merindukan pelangi, bukankah hujan ‘kan tetap datang membasuh gersangnya bumi?

Photo by Julia Volk on pexels.com

16 pemikiran pada “Masih

    1. Terima kasih mba Yaaan πŸ˜…
      Alhamdulillah. Mba gimana kabar?
      MaasyaaAllah I miss you more sistuuur. Sepertinya lagi asik ngurus anggota baru nih 😁

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s