Bukankah Kita Selalu Baik-baik Saja?

Photo by veeterzy on Pexels.com

Jika diingat kembali, ternyata memang cukup berat hari-hari yang kita lalui selama ini. Seringkali, terlalu banyak hal terjadi namun amat jauh dari apa yang kita ingini. Selain diri sendiri, terkadang rasanya seperti tak ada orang lain yang benar-benar bisa mengerti, dan hati pun turut memgamini perasaan ini...

Seluruh beban seakan hanya ingin bersembunyi di dalam sanubari. Bahkan secuil cerita yang kita alami hari ini, rasanya terlalu berat dan tak nyaman untuk sekedar dibagi. “Tidak apa-apa,” begitu saja jawabannya ketika ditanya. Semua, hanya ingin dipendam dalam-dalam, sendirian… Lalu diam-diam membenamkan diri di balik selimut malam. Perlahan berkata bahwa segalanya pasti akan baik-baik saja dengan segenap keyakinan. Entah memang benar sebuah keyakinan atau justru keterpaksaan...

Maka bagiku, tak ada yang aneh dengan kesendirian. Adakalanya yang kita butuhkan memang mengasingkan diri dari keramaian. Sejenak melepaskan semua beban, melupakan segala kesulitan, melarikan diri dan bersembunyi tanpa diketahui banyak orang. Kemudian, membiarkan beratnya perasaan menjelma genangan air yang mengalir perlahan, berharap sampan di seberang lautan dapat kembali berlayar…

Tidak mengapa… Lakukanlah jika memang hal itu dapat menyembuhkan. Karena bersembunyi tak selalu menandakan kelemahan. Berhenti tak selalu menggambarkan kekalahan. Terkadang, menghindari kerumunan dapat menjadi jalan yang aman, agar beban tak kian menekan perasaan. Kemudian, kita hanya perlu membuka telungkupan telapak tangan untuk menampung derai yang berjatuhan kala bersimpuh mengadukan seluruh kegelisahan...

Sejatinya, kesulitan yang kita hadapi bukanlah sebuah penghalang yang besar. Namun, terkadang diri kita terlalu cepat dihantui oleh berbagai keraguan. Padahal tanpa harus mengulang kembali ingatan, waktu-waktu melelahkan yang kita lalui di masa silam sudah tak lagi terbilang. Tetapi, bukankah telah ratusan kali mampu kita kalahkan? Buktinya kita bisa sampai di hari ini dalam keadaan baik-baik saja, bukan? Jadi, usahlah mengkhawatirkan rumitnya keadaan. Meskipun sendirian, percayalah bahwa hati kita selalu berteman dengan Tuhan…

Kepada hidup yang serba tak pasti ini, sesekali memang perlu kita renungi. Menyendiri di jelaga sunyi, sejenak menjauh dari hiruk pikuk dunia yang seringkali menguras energi. Mengingat kembali, sudah berapa lama sejak terakhir kali memperhatikan diri sendiri? Betapa lelahnya ia selama ini, membersamai jiwa yang tiada henti berlari mengejar -bahkan terkadang untuk sesuatu yang tak pasti…


Dan… kamu, sesekali harus memperhatikan dirimu. Siapa tau, dia telah berubah menjadi pribadi baru tanpa sepengetahuanmu…

10 pemikiran pada “Bukankah Kita Selalu Baik-baik Saja?

  1. “Kamu, sesekali harus memperhatikan dirimu. Siapa tau, dia telah berubah menjadi pribadi baru tanpa sepengetahuanmu.” What a deep words, Mbak Latifa.

    Tenanglah dalam kesendirian dan sunyimu. Memandang lamat-lamat pada dirimu. Menghabiskan waktu yang lama dengan Tuhanmu.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Yaa gitu Mba. Kadang suka abai sama diri sendiri πŸ˜…

      Justru begitu ya, diri kita yang sebenarnya akan lebih terlihat ketika sendirian, apalagi di waktu-waktu bersama Tuhan~

      Suka

      1. Iya, mbak. Kadang kita terlalu peduli dengan sekitar dan lupa perhatian sama diri sendiri πŸ˜…

        Iya betul mbak, Allah Maha Tahu kebutuhan manusia ya :’) Ibadah-ibadah yang dilakukan malam hari, sebetulnya memberi ruang untuk kita. Supaya berteman dengan sunyi ya mbaaaak

        Disukai oleh 1 orang

      2. Jadi harus perhatian sama diri sendiri dulu yaa mba sebelum nanti perhatian sama orang lain. Eh gimanaa? πŸ˜‚

        Setuju mba. Kalau udah begini, apa gunanya penilaian orang lain, ya kan? 😫

        Suka

      3. Perhatian dan cinta ke diri sendiri dulu gimana mbak latifa? Wkwk menurutku, diri kita ini berhak bgt diperhatiin lebih dulu mbak latifa πŸ₯Ί

        Aaaa, iya banget! Penilaian orang lain itu nggak ada abisnya, mbak. Apalagi bagi netijen budiman kan 🀣 kita cukupkan aja dapat penilaian Allah ajaaaa πŸ’™

        Disukai oleh 1 orang

      4. Nah! Bukan egois yaa, tapi emang perlu mencintai diri sendiri sebagai wujud syukur kaaan~ 😁

        Nggak akan habis mba, apalagi kitanya satu netijennya banyaaak πŸ˜…. Sayangnya, kadang udah meyakinkan diri untuk berhenti dengerin omongan orang, tapi ujung2nya masih sering baper 😩

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s