Bagi Kita Tak Sengaja, Bagi Allah Terencana

Dipertemukannya kita dengan seseorang adalah salah satu cara Allah menunjukkan indahnya garis takdir yang tergurat oleh jejak langkah jutaan manusia. Ada yang langkahnya selaras walau tak searah, ada yang jalannya seruas meski berbeda tujuan, ada yang saling bersimpangan tanpa sadar memiliki keterkaitan, ada pula yang lakunya padu hingga tak jarang berujung temu. Sungguh mengagumkan cara Allah mempertemukan kita dengan seseorang. Selalu tak terduga, sebagaimana perjumpaanku dengan seorang teman beberapa waktu silam. Mungkin kejadian ini seperti sebuah ketidaksengajaan, namun Allah pasti sudah begitu lama merencanakan…

Qodarullah, beberapa hari yang lalu aku dipertemukan dengan salah satu teman di blog ini. Sebenarnya kami sesekali berinteraksi, namun sekadar saling memberikan pertanyaan atau tanggapan di kolom komentar tanpa adanya perbincangan lebih mendalam. Apalagi kolom komentarnya seringkali dinonaktifkan, jadi semakin bingung dan sungkan tiap ingin mengajaknya berbincang. Tapi kalau boleh jujur, bagiku blog ini memang sebatas media bertemunya orang-orang yang memiliki ketertarikan terhadap hal serupa. Sama-sama saling belajar menulis dan mengapresiasi. Belum pernah terpikir akan berjumpa, hingga beberapa hari yang lalu ketika aku dipertemukan dengan salah satu di antaranya.

Hari itu, tak ada rencana lain, selain pergi ke kampus untuk menemui seorang teman yang baru saja menyelesaikan ujian, namanya Rahmi. Sesampainya di kampus, dia memintaku untuk menemaninya berkunjung ke tempat salah satu teman sekelasnya karena ada suatu urusan. Ternyata dia lah teman yang sempat kutanyakan kepada Rahmi beberapa waktu yang lalu.

Sebelumnya, aku memang sempat menanyakan kepada Rahmi tentang seorang teman yang akan kami jumpai ini. Bukan tanpa alasan, tetapi karena pada saat itu ada suatu hal yang membuatku penasaran tentangnya.

Sesampainya di tempat tujuan, kami berkenalan layaknya orang yang belum pernah bertemu sebelumnya (ya emang, sih). Kesan pertama begitu melihatnya, menurutku dia friendly, supel, sangat welcome. Aku sengaja tidak langsung memberitahukan kepadanya mengenai identitasku (emangnya kamu siapaaa?), hingga pada akhirnya Rahmi melontarkan pertanyaan untuknya, “Kamu nggak tau Latifah?”. (Mendengar pertanyaan Rahmi, aku merasa mendadak terkenal sampai semua orang harus tau siapa Latifah. Yakaliii). Seketika, dia memasang raut wajah kebingungan. Mungkin saat itu dia memikirkan hal yang sama denganku, “Memangnya orang ini siapa sampai aku harus tau?”. Tapi dia justru balik bertanya, “Emang Latifah ikut organisasi him**** ya? Barangakali ikut tapi nggak pernah ketemu.”

Daripada membuatnya semakin bingung, akhirnya kukatakan kepadanya bahwa sebenarnya kami berteman di blog. “Asli? Dunia sesempit ini, ya?!” raut bingungnya berubah menjadi terkejut. Bahkan berulangkali dia mengatakan betapa sempitnya dunia, hingga dipertemukan dengan teman ngeblog yang konon (juga) membuatnya penasaran (ternyata sama-sama penasaran). Padahal kami tinggal di daerah yang sama, deket banget, jaraknya nggak sampai 1 km, punya beberapa teman yang sama (salah satunya Rahmi), tapi kenalannya jauh-jauh lewat blog. Qodarullah. Lalu kujelaskan bagaimana bisa mengetahui identitasnya, sementara nama dia di blog berbeda dengan nama aslinya.

Jadi, suatu hari ketika membagikan tulisan tentang sebuah acara, ada seorang teman yang memberikan komentar dan mengatakan bahwa salah satu blogger yang dikenalnya juga menghadiri acara serupa. Wah, iya kah? Ternyata ada teman blog yang posisinya sedekat ini. Kan jadi penasaran. Akhirnya, kuputuskan untuk mengunjungi halaman blogger yang bersangkutan, berharap menemukan informasi yang dapat menunjukkan keberadaannya. Tapi, selain tulisan dan beberapa gambar, tidak ada informasi lain terkait dirinya ataupun akun media sosial lain miliknya. Lalu, masih dalam mode penasaran, kucoba mengetikkan nama blognya di instagram, barangkali nama akun instagramnya tak jauh berbeda dari nama blog miliknya. Dan… ketemu! Memang sih, tidak banyak informasi yang kudapatkan dari akun ig nya, namun ada satu hal yang menarik perhatian karena akun tersebut diikuti oleh salah satu teman kami, Rahmi. “Berarti mereka saling kenal?” pikirku waktu itu. Dan benar saja. Setelah kutanyakan kepada Rahmi, ternyata mereka memang teman sekelas. Wah, sungguh menarik!!!

Pada sebua pertemuan tak terduga sore itu, dia menceritakan banyak hal, mulai dari awal ketertarikannya pada kegiatan menulis hingga pengalamannya bertemu dengan beberapa teman blog yang lain. Di antara teman-teman blogging yang sudah pernah dia temui selama ini, mungkin aku lah satu-satunya yang tidak direncanakan, dan lucunya kami sama-sama memakai baju berwarna dongker (mulai dari jilbab sampai gamis). Ternyata sangat mengesankan, bertemu dengan seseorang yang terlebih dahulu berinteraksi di dunia maya, padahal sebenarnya kami sangat dekat, satu kampus, satu gedung kuliah! Namun sayangnya, pertemuan ini terjadi di saat kami bergelar mahasiswa tingkat akhir dengan tugas akhir yang akan segera berakhir.

Tapi, tentunya aku sangat senang berteman denganmu, Rissaid –yang ternyata bernama Arin! 😊

22 pemikiran pada “Bagi Kita Tak Sengaja, Bagi Allah Terencana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s