Menghisab Diri

Mengaku sebagai hamba Allah, namun setiap amal dikerjakan sesuka hati, mengabaikan aturan, mengesampingkan teladan.
Mengetahui akan adanya hisab, namun ibadah dikerjakan seolah hanya untuk menggugurkan kewajiban.
Meyakini adanya hak-hak Allah yang harus ditunaikan, namun tak jarang terjebak dalam kelalaian, bahkan sengaja mengabaikan.
Memahami bahwa segala kebaikan adalah perkara yang harus disegerakan, namun lebih memilih untuk menunda dan memanjangkan angan-angan.

Menyatakan hanya Allah yang dapat mendatangkan segala karunia, namun hati masih sering diliputi rasa dengki terhadap nikmat saudaranya.
Meyakini bahwa Allah akan mencukupkan rezeki setiap manusia, namun diri senantiasa gelisah jika mendapatkan harta dunia yang dirasa tak seberapa.

Mengetahui keridhoan Allah terhadap hamba yang senantiasa bersyukur, namun kelalaian membuatnya berkubang dalam kufur.
Memahami bahwa harapan kepada selain Allah adalah sia-sia, namun lebih banyak menggantungkan kepada manusia.
Mengatakan bahwa Allah adalah Sebaik-baik Perencana, namun sering berlarut-larut dalam kecewa ketika yang terjadi tak seperti apa yang diterka.
Mengaku tawakal, namun keyakinan terhadap hasil terbaik yang akan Allah berikan masih terlalu dangkal.
Memahami perkara halal dan haram, namun tak jarang segala sesuatu dilakukan tanpa adanya pertimbangan.
Menyatakan bahwa musibah merupakan sebuah anugerah, namun lebih sering menyikapinya dengan keluh kesah, tak jarang penuh amarah.

Meyakini bahwa landasan dari segala amal kebaikan adalah lillahita’ala, namun selalu menanti datangnya pujian dari manusia.
Mengatakan bahwa ujian merupakan bentuk kasih sayang yang Allah berikan, namun saat kesulitan datang, yang pertama kali terucap hanyalah keluhan.

Meyakini segala hal yang ada di dunia adalah titipan, namun begitu berat hati untuk mengikhlaskan setiap kali diterpa musibah kehilangan.
Menyatakan bahwa akhirat lebih baik daripada dunia, namun menempatkan dunia di dalam hatinya.
Mengatakan bahwa semua manusia akan mengalami kematian, namun beramal layaknya jiwa yang tidak akan pernah merasakannya.

Jadi, kurang “tidak tau diri” apa lagi kita aku ini?

9 pemikiran pada “Menghisab Diri

  1. 😭 semuanya bener. Ya Allah kenapa rasanya saya begitu sombong? Merasa telah banyak beramal sehingga santai dan leha-leha masih ada dalam kamus hidup. Astagfirullah. Terimakasih tulisannya mba. Baarakallahu fiik πŸ’•

    Disukai oleh 1 orang

  2. 😭 semuanya bener. Ya Allah kenapa rasanya saya begitu sombong? Merasa telah banyak beramal sehingga santai dan leha-leha masih ada dalam kamus hidup. Astagfirullah. Terimakasih tulisannya mba. Baarakallahu fiik πŸ’•

    Disukai oleh 1 orang

    1. MaasyaaAllah…
      Semoga Allah jauhkan diri kita dari kelalaian yaa, Mba. Jazakillahu khairan, wa fiiki barakallah…

      Salam kenal Mba Rumaisha. Ibok sama Mba Kirana gimana kabarnya? Lohhh πŸ˜…πŸ˜†

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s