Menyembuhkan Perasaan dengan Tulisan

cara-menulis-daftar-pustaka.jpg
© moondoggiesmusic.com

Melihat orang-orang yang memiliki kemampuan baik dalam menulis, rasanya memang sangat mengagumkan. Melalui untaian kata yang dirangkai dengan begitu indah dan sempurna, ia dapat mempengaruhi bahkan mengubah –entah itu perilaku, perasaan, kebiasaan, hingga cara berpikir– seseorang. Tak jarang tulisan-tulisan itu menjadi sumber kekuatan yang membangkitkan dari keterpurukan, menyulut semangat dan optimisme, menjentikkan kebahagiaan bagi yang dirundung kepedihan, atau melapangkan hati yang tadinya sedikit menyempit –bahkan ketika tulisan tersebut hanyalah sepatah kata atau sebait kalimat. Namun, di sisi lain, dampak yang diberikan oleh sebuah tulisan juga bisa sebaliknya.

Baik atau buruk sudah menjadi resiko yang mungkin diterima oleh seorang pembaca atas berbagai tulisan yang dilahapnya, mengingat semakin terbukanya media bagi publik untuk menyampaikan opini. Sebab tidak semua orang yang diberikan kemampuan untuk menyuarakan pendapat (menulis) akan selalu menyampaikan hal positif. Bisa jadi suatu ketika jalan pikirannya tersandung oleh pengaruh negatif yang membuat jarinya refleks menuliskan kalimat kurang baik. Maka diperlukan kehati-hatian dalam menggerakkan kesepuluh jemari agar tidak terburu-buru menerjemahkan gagasan atau keliru menguraikan perkataan. Baikkah untuk kita? Burukkah bagi yang membaca? Karena kebaikan memiliki sifat menular, sedangkan keburukan berpotensi menyebar –kemudian viral (biasanya gitu).

Tapi, bukankah semua orang bebas berpendapat?

Memang, semua orang bebas menyampaikan aspirasi dan memiliki kesempatan yang sama untuk mengutarakan opini, tetapi kebebasan itu bukan berarti semaunya, seenaknya, tanpa tedeng aling-aling. Kita tidak tau, kalimat manakah yang akan menyembuhkan dan kata-kata seperti apakah yang dapat membahayakan. Kalau masih berpeluang menularkan kebaikan, kenapa memilih yang buruk? Jangankan keburukan, kebaikan pun terkadang masih berpotensi mendatangkan respon negatif dari orang lain. Tetapi, bukan berarti hal itu membatasi diri dari perbuatan baik. Hanya saja, jangan sampai kebebasan dalam menulis justru mengalihfungsikan manusia sebagai penyalur aspirasi menjadi pembunuh profesional. Jadi, pilihan kita hanya satu dan tidak bisa ditawar, yaitu selalu berusaha melakukan kebaikan meskipun sesederhana menuliskan kalimat “semangat, ya!”.

Pernah kan, melihat quotes berenergi baik di media sosial, di lebarnya dinding-dinding bangunan pinggir jalan, pada tingginya papan-papan reklame, pada penggalan kalimat depan di sampul buku, atau sesepele coretan dalam secarik kertas kumal? Membaca tulisan-tulisan baik seperti itu bisa menjadi jalan bagi seseorang untuk kembali membangkitkan energi positif dalam dirinya. Siapa tau, saat itu ia memang sedang membutuhkan motivasi untuk memulihkan emosi dari kacaunya hati, kemudian mendapati sebuah kutipan sederhana namun sarat makna bagi jiwanya. Bayangkan saja jika tulisan yang ia baca itu ternyata berasal dari buah pikiranmu di atas sobekan kertas yang mulai lecek. Tidakkah membahagiakan bisa melihat orang lain kembali menemukan semangatnya karena membaca tulisanmu? Kalimat yang dulunya kamu buat hanya untuk memotivasi diri, ternyata juga berpotensi memperbaiki emosi orang lain.

Tulisan seseorang memang tidak selalu menggambarkan gagasannya sendiri. Bisa jadi ia sekedar mengutip, menukil, mengadopsi, atau mengadaptasi. Namun percayalah, jika tulisan itu baik, maka ia memiliki potensi untuk memulihkan perasaan dalam hatinya. Kenapa? Karena sadar atau tidak, ketika seseorang menangkap sebuah peristiwa dari lingkungan di sekitarnya –baik berupa tulisan; perkataan; maupun kejadian tertentu, maka pikirannya akan mulai bermain-main dengan stimulus yang diterima. Tak jarang hal itu membuatnya termotivasi untuk ‘menuliskan ulang‘ di lamannya sendiri agar bisa dibaca oleh orang lain atau mungkin tangannya merasa ‘gatal’ untuk mengembangkan kutipan itu menjadi sebuah tulisan apik.

Melalui kegiatan menulis –meskipun sebatas untuk konsumsi pribadi, ternyata secara tidak langsung seseorang sedang melakukan terapi psikologis terhadap dirinya sendiri. Bisa jadi kegiatan menulis sengaja dilakukan untuk melepaskan tekanan dalam hati. Sebab, disadari atau tidak, menulis dapat membuat seseorang merenungi permasalahan yang sedang dihadapi atau kembali merunut peristiwa yang pernah terjadi. Hal itu kemudian akan menjadikannya cenderung lebih terbuka (setidaknya terhadap diri sendiri) dan lebih mudah menceritakan beban yang ada dalam hatinya, sekalipun berupa trauman terberat yang pernah dialami. Kegiatan menulis seperti itu disebut dengan istilah expressive writing yang diyakini dapat memulihkan suasana hati. Mungkin mirip-mirip lah ya, sama curhat. Walaupun tak banyak yang ditulis, setidaknya secuil beban telah berhasil ia gempur dari dalam hatinya, kemudian meluruh bersama kata-kata yang melegakan sekaligus memiliki makna tersendiri bagi dia yang menuliskan.

Dalam sebuah artikel yang pernah kubaca beberapa waktu lalu, konon almarhum Bapak Baharuddin Jusuf Habibie pun melakukan hal yang sama sejak kepergian almarhumah Ibu Ainun, yaitu menulis. Selain memperbanyak doa, menulis beliau lakukan setiap hari semata-mata untuk menyembuhkan perasaan sedih akibat ditinggalkan oleh orang terkasih. Ya, saat itu dokter pribadinya mendiagnosa bahwa beliau mengidap psikomatis malignant, yaitu kesedihan yang mendalam akibat kehilangan orang terdekat. Kemudian, dokter menyarankan empat hal penanganan kepada Pak Habibie, yaitu dirawat di rumah sakit jiwa, mendatangkan tim dokter Indonesia dan Jerman untuk merawatnya di rumah, menceritakan perasaannya kepada orang-orang terdekat, atau menulis. Maka, Pak Habibie pun memilih opsi keempat.

Beliau memilih untuk menulis karena ingin mencurahkan perasaannya secara intens, mengingat bahwa beliau tidak bisa begitu saja menceritakan segala hal yang berkaitan dengan Ibu Ainun kepada orang lain. Meski hanya satu kalimat tercatat atau mungkin timbunan paragraf terangkap, selama masih ada yang ingin diungkap, maka beliau tak akan menghentikan penanya untuk merayap di atas lembaran kertas atau membiarkan jari-jarinya terus menyelinap di antara papan keyboard. Alhasil, bukan hanya sekedar jurnal harian, namun kisah Habibie & Ainun pun dapat beliau lahirkan dari jiwa yang dirundung kesedihan. Tidak hanya menyembuhkan, tetapi aktivitas menulis yang Pak Habibie lakukan justru menunjukkan produktivitas.

Sejak memulai kembali aktivitas blog di awal tahun 2018, akupun mulai menyadari betapa pentingnya menulis bagi kondisi psikologis. Semakin lama, menulis itu rasanya seperti healing, terutama ketika sedang merasa tertekan atau krisis semangat. Seringkali apa yang dihasilkan bukan berupa untaian kisah pribadi, namun berwujud rentetan ungkapan emosional yang justru dapat menyembuhkan perasaan diri sendiri. Namun, bukan berarti sembarangan melemparkan uneg-uneg. Paling tidak, ada tambahan usaha untuk meramu tulisan itu agar menjadi kalimat yang menyiratkan sebuah pesan baik. Sebagai reward, mungkin akan ada satu atau dua orang yang –setidaknya– ikut termotivasi ketika membaca tulisan-tulisan random tersebut. Who knows

Mungkin, dari beberapa pihak akan muncul pertanyaan seperti “Buat apa repot-repot menulis kalau kita bisa bercerita kepada orang lain? Bahkan, kemungkinan malah dapat solusi juga”. Oh, tidak semudah itu. Beberapa orang mungkin memang lebih suka menceritakan permasalahan pribadinya kepada orang lain, lebih praktis curhat, namun bagaimana dengan yang tidak bisa? Atau, tidak ingin? Lagi pula, alasan seseorang mencurahkan perasaan belum tentu karena ingin mencari solusi, bisa jadi dia hanya ingin melepaskan tekanan batinnya saja, sebagaimana yang Pak Habibie lakukan.

Jadi, menulislah demi kebaikan –baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Sekalipun nihil yang menghargai, namun setidaknya hal itu dapat membantu memulihkan suasana hati.

“Menulislah secara sangat bebas tanpa mempedulikan struktur kalimat dan tata bahasa. Niscaya Anda akan terbebaskan dari segala deraan batin”.

Dr. James W. Pennebaker.

***

© moondoggiesmusic.com

2 pemikiran pada “Menyembuhkan Perasaan dengan Tulisan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s