Menjalankan Sebuah Peran

Pada riuhnya jalan yang kamu lalui kini, akan tiba saatnya menjadi lengang seolah tak berpenghuni. Karena nanti, semua pasti ‘kan pergi mencari jalannya sendiri-sendiri. Menemukan cita-cita yang ingin dicapai, fokus pada tujuan yang ingin digapai.

Tak ada yang ‘kan selalu bertahan di sisimu dan terus mendukung hari-harimu. Karena mereka pun harus menjalani peran dalam hidupnya sendiri, sebagaimana kamu. Maka, jangan berharap untuk selalu diperhatikan, pun berusaha keras untuk terus diagungkan. Sebab tujuan hidup ini tak serendah terlihat indah di mata orang-orang, melainkan menjadi yang jujur di hadapan tuhan tanpa diselimuti kemunafikan.

Namun nyatanya, memurnikan laku dalam keseharian memang tak semudah menciptakan sebuah pencitraan. Apapun dilakukan demi menampakkan figur kebaikan. Susah, tak masalah; sakit, tahan sedikit; berat, tetap memaksa kuat; lelah, biarkan saja lah. Asalkan tetap disaksikan dengan penuh decak kekaguman. Asalkan tak terlihat rendah di mata orang-orang.

Ah, lagi-lagi kamu keliru menghamba. Sembahanmu beralih pada tingkat penilaian manusia. Derajatmu dipertaruhkan dengan suka atau tidaknya mereka. Kekhawatiranmu tak jauh dari ada tidaknya seseorang yang bertahan di sisimu kelak. Ketakutanmu tak lepas dari dikenangnya kamu setelah pergi atau tidak.

Kamu takut sendirian. Kamu tak ingin dilupakan. Kamu tak mau ditinggalkan. Padahal, bukankah memang seperti itu siklus kehidupan? Untuk ditinggalkan atau meninggalkan. Sesederhana itu sebenarnya.

Namun yang seringkali terjadi, ketika satu persatu mulai pergi, saat itulah bayang-bayang sepi mulai menghantui. Kilat-kilat akan kesendirian tak henti menghampiri hatimu yang mulai dirundung sunyi. Tidakkah kamu coba untuk melihat lebih dalam lagi? Pada dirimu itu, sebenarnya ada Dzat yang melekat lebih dekat dari urat nadi. Namun, betapa jarang muncul ketakutan akan kehilanganNya. Yang seringkali dirasa justru kegelisahan karena tak mau terasingkan oleh manusia. Tak ingin dilupakan masa.

Bertahanlah… Perkara lengangnya jalanmu nanti, cukup teruskan langkah tanpa terlintas keinginan untuk menyerah dan berhenti. Ingatlah bahwa nun jauh di singgasana tertinggi, ada sosok tak terlihat yang selalu menyaksikan terang redupnya hidup yang kamu jalani. Ingatlah bahwa Dia tak pernah pergi, bahkan terus menemani sejauh apapun kamu berlari. Jadi, tak perlu menunggu sunyi, karena mengingat Allah sebagai satu-satunya yang selalu membersamai bisa kau mulai sejak saat ini.

Biarkanlah ketika seseorang dari sisimu ingin pergi, karena mereka pun berhak mengejar apa yang selama ini dicari. Tugasmulah mendoakan dan mendukungnya untuk menemukan jati diri. Jangan malah menjadi kerikil kerdil yang menyandung kaki atau bebatuan besar yang menghalangi. Jadilah baik dan lakukanlah kebaikan, meski sesederhana doa-doa yang kau lantunkan tanpa dimengerti oleh tempat yang menjadi tujuan.

Dan… Ketahuilah, bahwa sebenarnya kamu pun tak lain merupakan figuran yang melengkapi kehidupan seseorang. Kamu pun suatu saat akan pergi. Butuh pergi. Harus pergi. Entah, hanya sekedar pergi atau benar-benar… mati?

© Photo by Krivec Ales on pexels.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s