Hatimu untuk Siapa?

Mencintai itu pada hakikatnya bukanlah belajar untuk memiliki, namun belajar untuk ikhlas. Ikhlas menerimanya, ikhlas terhadap kebaikan dan keburukannya, ikhlas atas segala kelebihan maupun kekurangannya, hingga ikhlas ketika tiba saatnya melepaskan dia dari genggaman.

Ketahuilah, bahwa apa yang dicinta sejatinya bukanlah milikmu. Tidak akan pernah menjadi milikmu. Maka, alangkah baiknya melepaskan diri dari rasa memiliki. Sangat sulit, memang. Karena pada rasa cinta –bahkan benci, manusia sudah sangat terbiasa memasukkannya sampai ke dalam hati.

Kenyataannya, menjadi wajar dan sederhana memang tidak mudah. Terhadap apa yang dicinta, ada kalanya muncul keinginan untuk memberikan segalanya. Nah, jika rasa cinta kepada manusia saja demikian besar, lantas bagaimana dengan rasa cinta kepadaNya? Tidakkah kamu sadari, itulah sebuah tanda bahwa hati mulai berpaling dariNya?

Perihal suka, memang tak ada salahnya. Namun yang menjadikan ia berbahaya ialah ketika rasa memiliki mulai melumpuhkan dinding-dinding dalam hati. Padahal, hati yang kau gunakan untuk mencintai itu pun sejatinya bukanlah milikmu. Maka, sederhana dan sewajarnya saja. Tak perlu berlebihan, karena yang tercinta, yang terkasih, yang teramat disayang, yang disanjung dan dikagumi, pasti akan ada saatnya untuk direlakan. Semua hanyalah titipan.

Jadi, cintailah dia dengan hati yang baik. Hati yang tidak sekedar memberikan kasih sayang, tetapi dapat menghadirkan keikhlasan. Bukan hanya ikhlas untuk bersamanya, namun juga ikhlas ketika harus kehilangannya.

Photo by Pixabay on Pexels.com

4 pemikiran pada “Hatimu untuk Siapa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s