Bersabar Menghadapi Musibah

Processed with VSCO with g3 preset

Rujukan utama tulisan ini adalah Kitab Tanbihul Ghafilin karangan al-Imam al-Faqih Abu Laits as-Samargandi BAB 28 tentang Sabar Atas Derita (Musibah).

Dari Ibnu Abbas ra., Nabi Muhammad saw. bersabda bahwa kalimat pertama yang ditulis dengan pena di Lauhul Mahfuzh atas perintah Allah adalah:

“Sesungguhnya Aku ini Allah. Tiada Tuhan selain Aku. Muhammad adalah hamba dan Rasul-Ku yang telah Aku pilih dari sekian banyak makhluk-Ku. Barang siapa rela dengan ketentuanku, bersabar atas segala cobaan-Ku, dan senantiasa bersyukur atas nikmat-nikmat-Ku, niscaya Aku akan mencatatnya sebagai orang yang ikhlas dan jujur. Pada hari kiamat kelak, Aku akan membangkitkannya bersama orang-orang yang ikhlas dan jujur. Barang siapa tidak rela dengan ketentuan-Ku, tidak bersabar atas cobaan-Ku, dan tidak mau bersyukur atas nikmat-nikmat-Ku, maka hendaklah ia keluar dari kolong langit-Ku dan mencari Tuhan selaiin Aku.”

Berkenaan dengan hadits tersebut, al-Faqih Abu Laits ra. menjelaskan bahwa bersabar ketika mendapat cobaan dan senantiasa ingat kepada Allah ketika ditimpa musibah hukumnya wajib bagi setiap anak Adam. Karena dengan tetap mengingat Allah pada keadaan tersebut, menandakan ia rela dengan ketentuan Allah dan membenci syaitan.

Di dunia ini, tidak ada kekangan yang lebih disenangi Allah kecuali dua perkara, yaitu mengekang amarah dengan kesabaran dan mengekang musibah dengan kesabaran pula.

Ketika Nabi Sulaiman ditinggal mati oleh putranya, ia sangat sedih. Kemudian datanglah dua malaikat untuk menghiburnya dengan menganalogikan musibah yang sedang menimpanya melalui sebuah percakapan.

Malaikat 1: Sang raja, aku menanam biji, sudah tumbuh baik. Belum sempat kunikmati hasilnya, tetapi telah dicabut oleh orang ini (menunjuk Malaikat 2).

Nabi Sulaiman: Kenapa kau lakukan hal itu?

Malaikat 2: Aku tengah berjalan menuju jalan raya, namun di tengah-tengahnya ada tanaman yang kurang sedap dipandang mata, lalu kupindahkan tanaman-tanaman itu ke kanan dan kiri jalan, tak tahunya ada tanaman milik orang ini (menunjuk Malaikat 2) yang telah ikut kucabut.

Nabi Sulaiman: Kenapa menanam di tengah jalan? (bertanya pada Malaikat 1). Tidak tahukah kamu bahwa setiap orang memerlukan jalan?

Malaikat 1: Lalu, kenapa kau harus bersedih dan berduka atas kematian anakmu? Tidak sadarkah bahwa kematian adalah jalan menuju akhirat?

Dari kisah ini, dapat kita simpulkan bahwa melalui analogi yang disampaikan oleh dua malaikat tersebut, Allah telah menyampaikan pesan bahwa Nabi Sulaiman tidak seharusnya berduka secara berlebihan atas meninggalnya sang putra, karena kematian merupakan jalan menuju alam yang kekal lagi abadi, yaitu akhirat. Kemudian, Nabi Sulaiman bertaubat dan tidak lagi berlebihan dalam duka atas kematian anaknya. (Hadits dari Abu Darda’).

Kisah lain menuturkan bahwa ketika Ibrahim putra Rasulullah saw. meninggal dunia, beliau menangis dan mencucurkan air mata, kemudian Abdurrahman menegurnya, “Ya Rasulullah, kenapa engkau menangis? Bukankah engkau telah melarangnya?”. Lalu beliau menjawab, “Tidak, tetapi aku dilarang merintih dan bernyanyi, dua suara bodoh lagi lacur, serta dilarang mencakar muka, merobek baju. Karena merintih adalah perbuatan syaitan, termasuk bernyanyi, main-main dan serulingnya. Tetapi, ini adalah air mata rahmat yang diletakkan Tuhan pada hati hamba-Nya yang mempunyai belas kasih (rahmat). Barangsiapa tidak mempunyai rahmat, maka ia tidak akan memperoleh rahmat.

Rasulullah saw. juga bersabda, “Hati merasa sedih, dan mata mencucurkan air mata, tetapi tidak menyatakan sesuatu yang menjadika kemarahan Allah.”

Dua kisah tersebut sudah cukup untuk dijadikan sebagai pelajaran dalam menghadapi sebuah musibah, termasuk kematian. Allah tidak menyukai seseorang yang berlarut-larut dalam kesedihan ketika ditimpa musibah, tetapi Allah juga tidak melarang seseorang untuk berduka, asalkan dukanya itu tidak mengundang kemarahan Allah sebagaimana yang telah disebutkan oleh Nabi saw.

Di dunia ini, tiada tetesan yang lebih disenangi Allah, kecuali dua tetesan, yaitu tetsan darah ketika berjihad menegakkan agama Allah dan tetesan air mata ketika bersujud di tengah malam sunyi, tiada yang tau kecuali Alah SWT.

Tiada seorang muslim tertimpa musibah, sekalipun peristiwa itu sudah terlewati dan ia membayangkannya seraya berkata: Innalillahi wa innaa ilaihi raaji’uun, kecuali Allah memberinya pahala (baru) seperti dulu ketika ia menerima pahala musibah tersebut.

Suatu ketika, Ibnu Abbas yang sedang berada di tengah perjalanan mendapatkan berita tentang kematian putrinya, kemudian ia membaca: “Innalillahi wa innaa ilaihi raaji’uun” dan berkata “Aurat yang ditutup oleh Allah dan beban yang Dia selesaikan, serta pahala yang Ia datangkan bagiku”. Kemudian ia turun dari kendaraannya dan mendirikan shalat dua rakaat. Beliau berkata: “Kami melakukan perinta Allah dalam ayat

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ

“Dan jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu…” (QS. Al Baqarah: 45).

Demikianlah bagaimana amalan yang seharusnya kita lakukan ketika mendapatkan suatu musibah, yaitu menjadikan kesabaran dan shalat sebagai penolong, karena hal itu akan senantiasa membuat kita selalu ingat dan mendekatkan diri kepada Allah.

Ketika saudara kita seang ditimpa musibah, maka hendaklah menghiburnya.Barangsiapa menghibur orang yang ditimpa musibah, maka pahala yang ia dapatkan sebagaimana pahala orang yang sedang ditimpa musibah”. (Al Hadits).

Sabar dibagi menjadi 3 dan masing-masing memiliki tingkatan derajat, yaitu:

  1. Sabar melakukan ibadah (taat), baginya ditingkatkan 600 derajat.
  2. Sabar menjauhi maksiat, ditingkatkan 900 derajat.
  3. Sabar ketika ditimpa musibah, ditingkatkan 300 derajat.

(Dalam beberapa sumber lain, terdapat perbedaan dalam tingkat derajat pada setiap kesabaran. Wallahua’lam)

Sesungguhnya musibah yang menimpa manusia itu hanyalah satu/sekali, tetapi jika ia mengeluh, maka ia akan mendapatkan dua musibah:

  1. Musibah itu sendiri, dan
  2. musibah karena kehilangan pahala yang diakibatkan karena mengeluh/tidak sabar. (Abdullah Mubarak).

“Orang-orang yang merasa berat ketika ditimpa musibah, maka hendaklah mengingat musibah atas kehilangan aku (Muhammad), karena itulah musibah terbesar.” (HR. S. Ali bin Abi Thalib ra.).

Berikut ini disampaikan enam nasehat dari al Faqih Abu Laits dalam kitabnya:

  1. Orang yang susah (terlalu berat) memikirkan dunia, berarti marah kepada Allah
  2. Mengeluh pada musibah, berarti mengeluh pada Allah
  3. Orang yang tidak mempedulikan dari mana rezekinya diperoleh, maka Allah juga tidak mempedulikan dari pintu mana ia masuk neraka
  4. Orang yang melakukan maksiat dengan hati senang, pasti masuk neraka dengan cucuran air mata yang tiada hentinya
  5. Orang yang disibukkan dengan memuaskan syahwatnya, pasti Allah menghilangkan rasa takutnya terdahap akirat
  6. Orang yang menjilat-jilat orang kaya, pasti derita kemiskinan selalu terbayang di kelopak matanya

2 pemikiran pada “Bersabar Menghadapi Musibah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s