Perspektif

Processed with VSCO with g3 preset

Entah mengapa, kita terbiasa melihat sebuah peristiwa hanya dari sudut pandang kita saja, misalnya ketika kita terus mengejar sesuatu tanpa mengetahui sedang dikejar, terlalu fokus melihat hingga tak sempat merasa sedang dilihat, terlalu sibuk mengharapkan hingga tak menyadari bahwa kita sedang diharapkan. Begitu seterusnya, berulang-ulang, karena kita cenderung melihat segala sesuatu hanya dari satu sudut, yaitu sudut pandang kita.

Satu sudut yang dapat menimbulkan berbagai fenomena ketika diaplikasikan dalam diri manusia, misalnya ketika kita sedang membenci tanpa sadar sedang dibenci, ketika kita fokus melihat kesalahan orang lain tanpa sempat merasa bahwa kitapun sedang dilihat kesalahannya, apalagi ketika kita terus mengejar dunia padahal dalam waktu bersamaan kita juga sedang dikejar kematian. Ini hanya permisalan saja. Tetapi, ya memang selalu seperti itu, karena setiap hal yang kita lakukan merupakan kata kerja yang terbingkai dalam sebuah sudut pandang.

Sudut pandang seseorang tak jarang menimbulkan kesalahpahaman. Sebagai contoh ketika ada seorang teman menceritakan permasalahan yang dihadapinya dengan orang lain. Terkadang hal itu cenderung membuat kita berpihak kepadanya. Kenapa? Ya, karena kita mendengar alur cerita sebuah peristiwa hanya dari sudut pandangnya, yang kemudian ditransfer ke sudut pandang kita, hingga membuat segala kejadian yang sudah terkonsep di dalam pikirannya tercopy paste ke dalam pikiran kita. Ketika berada dalam keadaan seperti itu, marilah kita mencoba untuk memposisikan diri tak hanya pada satu tempat –untuk berperan sebagai pihak yang netral. Cobalah melihat sudut bukan hanya dari pandangan kita, tetapi juga pihak pertama dan ketiga dengan cara memposisikan diri sebagai mereka agar tidak menimbulkan terlalu banyak prasangka. Ibarat cerita fiksi yang dikisahkan melalui berbagai sudut pandang, ketika membacanya pasti akan memberikan rasa yang berbeda-beda. Terkadang kisah ditulis dalam sudut pandang orang pertama, sudut pandang orang ketiga, hingga sudut pandang masing-masing tokoh yang ada di dalamnya.

Ketika kita membaca kisah berdasarkan sudut pandang orang pertama, dimana kita memposisikan diri sebagai salah satu tokoh, maka emosi personal dari salah satu tokoh itu akan lebih terasa dan lebih kita pahami, namun kita tidak bisa menjelajahi sudut pandang tokoh-tokoh lainnya, sehingga mereka akan cenderung kita lihat dari perspektif orang pertama dimana peran dan karakternya akan kita pahami sebagaimana deskripsi yang dia (orang pertama) sampaikan.

Berbeda dengan sudut pandang orang ketiga. Seperti halnya mendengarkan sebuah kisah, kita akan cenderung memaknai peristiwa sebagaimana orang yang menyaksikan jalannya cerita tanpa berpihak pada salah satu sudut pandang. Setiap tokoh akan diceritakan secara adil sehingga pemahaman kita terhadap emosi tokoh akan merata pada keseluruhan perasaan yang dikisahkan, karena (sekali lagi) peran kita seperti halnya pihak luar yang menjadi pendengar (pembaca) sebuah cerita.

Lain halnya dengan cerita yang dituliskan dalam berbagai sudut pandang –yang saat ini mulai digunakan dalam sebuah karya fiksi. Disini, mau tidak mau kita akan memposisikan diri, lantas merasakan bagaimana berdiri di atas kaki setiap pemeran karena kita akan menyelami jalannya cerita dari berbagai sudut pandang tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Setiap berpindah kisah, kita akan digiring menuju perasaan yang berbeda dari setiap tokohnya sehingga akan membuat kita menempatkan diri dalam berbagai emosi. Terbayang kan, bagaimana di satu sisi kita menyelami peran sebagai ‘aku’ dari sudut pandang salah satu tokoh, kemudian ketika diantarkan pada alur selanjutnya, seketika peran kita berubah menjadi ‘aku’ dari tokoh lain yang masih berada dalam satu cerita yang sama? Disini kita benar-benar akan dibawa menuju berbagai emosi, sehingga kita tidak akan berpihak hanya pada salah satu tokoh dalam cerita. (Contoh novel yang menggunakan sudut pandang semua tokoh: Camar Biru karangan Nilam Suri).

Lalu apa korelasinya dengan point of view kita dalam menghadapi permasalahan? Kalau menurut saya pribadi, ketika dipertemukan dengan suatu masalah, masalah apa saja –baik yang kita hadapi sendiri maupun yang dihadapi oleh orang lain, maka alangkah baiknya jika kita belajar untuk melihat dan memaknai permasalahan itu dari berbagai sudut pandang. Kecenderungan kita dalam menyikapi suatu masalah (biasanya, termasuk saya) adalah memposisikan diri pada tempat yang benar. Baiklah, mungkin ‘terkadang’ kita memang lebih benar, tetapi tidak sepenuhnya. Semua kesalahan yang terjadi tentunya tidak lepas dari berbagai faktor, salah satunya –sangat mungkin– dari diri kita. Ketika kita menganggap salah satu pihak bersalah, apakah benar semua kesalahan terjadi hanya karenanya? Sudahkah kita periksa ada tidaknya faktor dari dalam diri kita yang menjadi penyebab terjadinya permasalahan? Seberapa besar pengaruhnya? Inilah yang sering kita lupakan. Dalam menyikapi suatu permasalahan, alangkah baiknya jika diawali dengan muhasabah.

Muhasabah –introspeksi diri sendiri terhadap segala perbuatan, dapat menghindarkan dari ketergesaan menghakimi. Bisa jadi, dengan kita introspeksi lalu dengan rendah hati mencoba menempatkan diri bukan hanya sebagai pihak yang benar, akan membuat pikiran kita lebih terbuka dan melepaskan diri dari segala prasangka yang cenderung mengkambinghitamkan salah satu pihak. Bagaimana jika saya yang berada di posisinya? Bagaimana jika saya yang disudutkan? Bagaimana jika ternyata saya memiliki peran besar terhadap terjadinya permasalahan? Kurang lebih seperti itu, dan saya rasa tidak ada salahnya.Sedikit cerita (literally tidak bermaksud membuka aib), dulu saya pernah menjadi tempat sharing dua orang teman yang sedang bermasalah. Ketika pihak pertama mendatangi saya lantas menceritakan permasalahan yang sedang dihadapinya, hal pertama yang muncul dalam benak saya adalah cenderung menyalahkan pihak ketiga. Selang beberapa waktu, datanglah pihak ketiga dengan membawa permasalahan yang sama. Disitu saya mencoba menempatkan diri pada posisi kedua belah pihak, hingga akhirnya menemukan fakta bahwa kesalahan bukan hanya terletak pada pihak ketiga, namun keduanya. Jujur, saya merasa sangat bersalah kepada pihak ketiga karena sempat beburuk sangka kepadanya. Saya lupa untuk tabayyun hingga terburu-buru menghakimi salah satu pihak, padahal cerita belum sepenuhnya saya dengar.

Ternyata, memang sebaiknya begitu: mengawali dengan muhasabah ketika diri menghadapi suatu masalah dan tabayyun ketika mendengarkan cerita yang orang lain sampaikan, lantas menilainya dari berbagai sudut pandang. Jangan lupa menenangkan diri terlebih dahulu :). Dengan pikiran terbuka dan tidak tergesa-gesa, in syaa Allah semuanya akan terselesaikan.

16 pemikiran pada “Perspektif

  1. Artikel yang menarik, Mbak. Setuju dengan kalimat “Jangan lupa menenangkan diri terlebih dahulu :).” Terkadang kalau diri sedang tidak tenang, diri cenderung lupa untuk tidak menilik dari berbagai sudut pandang dan cepat-cepat menghakimi.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Alhamdulillah, terima kasih…
      Iyaa, memang sebaiknya begitu. Kalau perlu pergi sebentar, tp bukan menghindar. Semata2 untuk menenangkan diri.

      Suka

  2. Terima kasih dan salam kenal. Perkenankanlah meninggalkan jejak dulu. Belum bisa berkomentar, karena ini adalah pembahasan yang cukup pelik dan rumit. Sudut pandang pada posisi tertentu bisa jadi benar dan bisa jadi salah. Tetapi bagaimanapun sudut pandang selalu memiliki versi kebenarannya. Yang salah adalah ‘memaksakan’ versi kebeeran pada sudut padang tertentu. Jadi ketika berhadapan dengan berbagai macam sudut pandang, saya suka mengambil posisi aman: praduga asas tak bersalah. Demikian. Sekali lagi… Terima kasih dan salam kenal.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Terima kasih untuk sudah berkenan meninggalkan jejak. Memang tdk ada habisnya membahas satu persoalan ini, dan sayapun setuju bahwa setiap sudut pandang memiliki versi kebenarannya tersendiri…
      Salam kenal…

      Disukai oleh 1 orang

  3. Aku suka bacanya, mengajak pikiran melangkah ke mana-mana. Mulai menjadi pihak pertama, kedua, ketiga, hingga kembali menjadi diri sendiri.

    Hii Mbak. Thank you share nya. Selamat berhari ini. Semoga semangat selalu yaa.

    Senang bersua lagi, di sini 😁

    Suka

    1. Terima kasih Mbaa Yani yg selaluu punya cara untuk mengapresiasi 😆

      Haii juga Mbaa, sama2 yaaa. Semoga mba disana juga selalu semangat 💪

      Akupun senaang mbaa 😁😂

      Disukai oleh 1 orang

  4. menarik teh latif. saya sempat beberapa kali ‘dicurhatin’ temen, perkaranya masalah dia dengan pihak ke tiga. Saya selalu mencoba memposisikan diri di pihak ke tiga, dan memeberikan beberapa kemungkinan dari sudut pandang orang ke-3 itu. tujuan saya mencoba menawarkan opsi lain, karna seringkali perselisihan terjadi karna salah persepsi semata, kalau kami menyebutnya ‘mafhum la yuqsad, dan maqsud la yufham.’

    hasilnya apa? dia ngambek dong, hahahaa. setelah saya muhasabah ulang, nyatanya saya yang terlalu off-side. karna saya boleh saja memosisikan diri di pihak manapun, tapi menyampaikan pendangan tersebut, ini hal yang berbeda. karna banyak yang curhat semata hanya ingin didengar, bukan meminta solusi.

    makanya ketika saya sampaikan pandangan saya berdasarkan sudut pandang orang ketiga tanpa dia minta, itu sangat menyebalkan sih, huhu. Maapkan saya temann.. >_<

    Suka

    1. ((izin ketawa dulu sebelum balas komentar yeeu))
      Apa itu ‘mafhum la yuqsad, dan maqsud la yufham’? Googling tapi nggak nemu.
      Sebenernya, tujuan kita menyampaikan kemungkinan pandangan dari pihak ke 3 itu untuk mengajak berhusnudzon. Tapi ya emang benar sih, kebanyakan teman cerita karena ingin didengarkan. Cukup dengan mengeluarkan uneg-uneg dan didengarkan aja kadang udah bikin lega (apalagi perempuan yang konon katanya bicara 20rb kata dalam sehari). Tapi jujur, sungguh engap kalau sehari nggak ngobrol sama siapapun, at least chatting.

      Btw, komentarnya dah macem posting tulisan di blog ya. Pokona mah, ntaps lah abang al el dul niii 👍

      Suka

      1. okey ketawa dijinin -__-

        Mafhum la yuqsad: yang dipahami gk sesuai dengan yang dimaksud
        Maqsud la yufham: yang dimaksud tidak dipahami (dengan tepat).
        intinya ya gagal paham, mis komunikasi, dan salah persepsi.

        iyaa, tujuan saya ya biar keep husnuzan kan, cuma kalau saya pribadi jadi belajar dari kasus itu, kalau memang gk dipinta pendapat saya gak bakal ikut komen apalagi sampai ngasih alternatif kemungkinan dari sudut pandang orang ke-3. Apalagi kalau orang ke-3 gk begitu saya kenal. gituu teh latip…

        Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s