Tugas Kita ialah Bersyukur

Setiap orang memiliki porsi rezeki yang berbeda-beda, tergantung kebutuhan masing-masing. Sederhananya, hanya ada 2 jenis, yaitu cukup dan lebih dari cukup. Tidak ada yang kurang. Semua sudah Allah tetapkan sebagaimana makhlukNya membutuhkan.

Pertama, cukup. Karena Allah tau bahwa porsi “cukup” itu adalah ukuran terbaik bagi hamba yang akan menerimanya. Kalau dilebihkan barang 1 mikrogram saja, bisa jadi 1 mikrogram itu akan mubadzir atau mendatangkan mudharat lain. Maka dari itu, Allah memberikan yang cukup saja.

Jangan pernah merasa kurang, karena itu artinya kita tidak percaya pada perhitungan matematik Allah dalam menetapkan rezeki. Tak perlu khawatir, karena yang cukup itu bisa menjadi lebih. Bagaimana caranya? Yaitu dengan bersyukur.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim [14]: 7).

Jadi, semua tergantung pilihan kita masing-masing, bersyukur atau kufur?

Selanjutnya, lebih dari cukup. Apabila mendapatkan rezeki yang “lebih dari cukup” itu, maka kita juga harus “lebih hati-hati”. Kenapa? Kuncinya ada pada kata “lebih”. Kalau bagian yang “cukup” itu, in syaa Allah memang untuk kita. Tapi bagaimana dengan yang “lebih”?

Semestinya, dengan adanya bagian lebih, kita juga harus lebih memperhatikan kemana larinya rezeki itu? Lebih memperhatikan cara membelanjakannya, apa saja yang dibelanjakan, menggunakannya di jalan Allah atau bukan. Dengan porsi yang lebih itu, apakah membuat kita lebih memperhatikan orang-orang yang membutuhkan?

Semua jawaban ada pada hati nurani kita masing masing. Jangan sampai bagian lebih yang diterima itu membuat kita dzalim, karena sesungguhnya segala hal yang ada pada diri kita ini hanyalah titipan dari Allah. Tidak seharusnya kan, kita sombong terhadap apa yang bukan milik kita?

Kesimpulannya, setiap rezeki yang Allah karuniakan harus selalu disyukuri, namun terkadang itu menjadi sebuah tugas berat karena tidak semua manusia masih mengingatnya di tengah kelimpahan harta. Padahal pada setiap rezeki itu, masih ada hak lain yang harus ditunaikan.

10 pemikiran pada “Tugas Kita ialah Bersyukur

  1. Assalamualaikum, Mba Latifa. 😊🤗
    Senang bersapa di sini. Artikel-artikelnya sangat bermanfaat. Terimakasih sudah membagi yaa, semoga berkah menjadi kebaikan yang bertambah-tambah, aamiin ya Allah. Salam ukhuwah,
    😊😊😊

    Suka

    1. Wa’alaikumussalan warahmatullah wabarakatuh. Senang juga bersapa dengan mba Yani 😊.
      Alhamdulillah, terima kasih apresiasinya mba. Tulisan2 mba Yani sangat menginspirasi. Salam ukhuwah 😊😊

      Suka

      1. Alhamdulillah, terima kasih kembali ya Mba.. untuk membaca.
        Hi, teduhnya kalimat-kalimat Mba. Ayem bacanya. Ku merindukan pertemuan tatap mata. Semoga kita bisa jumpa suatu masa, yaa, ku mendamba. 😊😊😊

        Suka

      2. Alhamdulillah Mba… Terima kasih juga sudah menyempatkan untuk membaca. Saya masih perlu banyak belajar lagi…
        Semoga Allah mendengarkan doa kita Mba, agar suatu saat nanti bisa jumpa untuk semakin mempererat ukhuwah. Aamiin… 😊😊😊

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s